Harga emas dunia anjlok cukup tajam pada Kamis kemarin. Sentimen pasar tampaknya masih dikuasai oleh dua hal: dolar AS yang menguat dan harga minyak yang terus merangkak naik. Kombinasi itu bikin kekhawatiran inflasi tetap menggantung, tak kunjung reda.
Di sisi lain, para pelaku pasar juga sibuk menimbang-nimbang kabar terbaru soal peluang gencatan senjata di kawasan Timur Tengah. Situasinya dinamis, dan itu jelas mempengaruhi pergerakan harga.
Data menunjukkan, emas spot terpangkas 2,84 persen, berada di level USD 4.378,37 per troy ons. Penguatan dolar, meski tak terlalu signifikan, tetap saja membuat logam kuning ini jadi lebih mahal bagi investor yang memegang mata uang lain. Rasanya seperti double whammy bagi emas.
Seorang analis senior di Kitco Metals, Jim Wyckoff, memberikan pandangannya kepada Reuters.
"Emas memang sedang tertekan oleh kekhawatiran soal suku bunga dan inflasi yang lebih tinggi. Kalau konflik ini berlanjut, harga bisa saja terjun bebas di bawah level USD 4.000. Tapi sebaliknya, jika ada gencatan senjata dan harapan penurunan suku bunga menguat, emas berpeluang melesat kembali ke kisaran USD 5.000," ujarnya.
Memang, emas selalu digadang-gadang sebagai safe haven, pelindung nilai di tengah ketidakpastian. Tapi logika itu kadang tak berlaku di lingkungan suku bunga tinggi. Ketika imbal hasil aset lain naik, biaya peluang untuk memegang emas yang tidak memberikan bunga jadi terasa lebih berat. Daya tariknya pun memudar.
Lalu ada minyak. Harganya terus naik seiring prospek konflik yang berkepanjangan. Ketegangan di Timur Tengah selalu bikin deg-degan, khawatir pasokan energi global bakal terganggu. Dan kalau harga energi melambung, ya sudah, tekanan inflasi di berbagai negara bisa makin menjadi-jadi.
Negosiasi di balik layar pun tampaknya alot. Seorang pejabat senior Iran menyebut proposal dari AS untuk mengakhiri konflik yang sudah berjalan hampir empat pekan ini sebagai sesuatu yang "sepihak dan tidak adil".
Sementara dari kubu lain, Presiden AS Donald Trump punya sinyal berbeda. Ia menyebut Iran mengizinkan 10 kapal tanker melintasi Selat Hormuz sebagai sebuah isyarat itikad baik. Semuanya masih dalam tarik ulur.
Dampak perang yang dimulai akhir Februari lalu ternyata cukup dalam bagi emas. Sejak 28 Februari, harga logam mulia ini sudah merosot sekitar 17 persen. Cukup dalam.
Analis dari Intesa Sanpaolo mencatat, gerakan spekulatif dalam beberapa kuartal terakhir telah mengikis kemampuan emas dan perak sebagai aset safe-haven, setidaknya untuk jangka pendek. Pencarian likuiditas di awal-awal konflik justru memicu aksi jual besar-besaran terhadap kedua logam ini.
Pelemahan tak hanya terjadi pada emas. Logam mulia lainnya ikut terpuruk. Perak spot jatuh 5 persen ke USD 67,71. Platinum juga melemah 4,2 persen ke level USD 1.839,67. Palladium tak kalah, turun 5 persen menjadi USD 1.352,82. Pasar komoditas logam mulia hari itu benar-benar diselimuti awan merah.
Artikel Terkait
Harga Emas Anjlok ke Titik Terendah Dua Bulan, Tertekan Konflik Iran-AS dan Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed
Reformasi Ekspor Komoditas Dinilai Perkuat Likuiditas Valas, Namun Perbankan Waspadai Risiko Eksekusi
Dow Jones Cetak Rekor Tertinggi Ditopang Sektor Kesehatan dan Konsumen
BEI Hapus 30 Waran Terstruktur dari Perdagangan per 10 Juni 2026