Pasar saham Wall Street benar-benar berdarah kemarin. Saham-saham ditutup anjlok pada Kamis (26/3/2026), terhempas oleh pesimisme Presiden Donald Trump soal peluang kesepakatan damai dengan Iran. Situasi di Timur Tengah yang masih memanas juga mendorong harga minyak melonjak, menambah tekanan pada sentimen investor.
Kerugiannya cukup dalam. Indeks NASDAQ Composite, yang dipenuhi saham-saham teknologi, terpangkas 2,4 persen ke level 21.408,08 poin. Kalau dilihat lebih jauh, indeks ini sudah merosot lebih dari 10 persen dari rekor tertingginya baru-baru ini. Sementara itu, S&P 500 ikut melemah 1,7 persen, dan Dow Jones merosot satu persen.
Pemicu utama kekacauan ini datang dari pernyataan Trump dalam rapat kabinet. Ia mengungkapkan keraguannya.
"Mereka (Iran) memohon untuk buat kesepakatan. Saya nggak tahu apakah kita akan mampu melakukan itu. Saya juga nggak tahu apakah kita bersedia," ujar Trump. "Seharusnya mereka sudah melakukannya empat minggu lalu."
Namun begitu, ada sedikit sinyal yang mencoba menenangkan pasar. Tak lama setelah bel pasar berakhir, Trump mengunggah postingan media sosial. Ia menyatakan, sesuai permintaan Iran, penangguhan serangan AS terhadap infrastruktur energi Iran diperpanjang sepuluh hari. "Pembicaraan sedang berlangsung," tulisnya. Sayangnya, janji pembicaraan itu tak cukup untuk meredakan kepanikan.
Artikel Terkait
Harga Emas Anjlok 2,84%, Tertekan Dolar AS dan Ketegangan Timur Tengah
Harga Minyak Melonjak Lagi Usai Harapan Damai Timur Tengah Meredup
Analis Proyeksikan Koreksi IHSG Berlanjut, Soroti Peluang Beli di Beberapa Saham
Tanrise Property (RISE) Catat Laba Melonjak 165% pada 2025 Didorong Apartemen