Baginya, pertumbuhan keuangan 2025 ini mencerminkan upaya perusahaan menyeimbangkan antara ekspansi usaha dan efisiensi di lapangan.
“Perseroan akan terus mengelola bisnis secara prudent agar dapat menjaga keberlanjutan kinerja di tengah berbagai tantangan yang ada,”
tandas Danny.
Sebagai pemain dalam ekosistem agro input nasional, DGWG tampaknya tak mau berpuas diri. Mereka berjanji akan menjaga momentum pertumbuhan ini, tapi dengan tetap memerhatikan aspek keberlanjutan dan kontribusi nyata bagi pertanian. Penguatan distribusi, ketersediaan produk, dan efisiensi operasional diyakini sebagai kunci untuk mendukung ketahanan pangan.
Jadi, apa rencana ke depannya? Strateginya kurang lebih akan berlanjut: tingkatkan volume, perkuat distribusi, dan kejar efisiensi operasional. Semua itu akan dijalankan dengan pendekatan terukur dan tentu saja, berkelanjutan.
(kunthi fahmar sandy)
Artikel Terkait
Laba Bersih Amman Mineral Anjlok 60% di Tengah Masa Transisi Operasional
Laba Bersih Chandra Asri Melonjak 2.662% Jadi Rp 23,8 Triliun pada 2025
IHSG Berbalik Anjlok 1,21% di Sesi I, Sektor Energi dan Industri Tertekan
ESDM Siap Naikkan Harga Patokan Nikel Usai Perintah Presiden Prabowo