Ironisnya, sementara saham emas domestik jatuh, harga komoditas emas dunia justru mulai bangkit. Pada hari yang sama, harga emas global bertengger di atas USD 4.500 per ons. Ini adalah penguatan hari kedua berturut-turut, didorong oleh harapan meredanya ketegangan di Timur Tengah.
Isunya, Amerika Serikat dikabarkan membuka jalur negosiasi dengan Iran. Media Israel menyebut Washington mengupayakan gencatan senjata satu bulan, sementara The New York Times melaporkan AS telah mengirim proposal 15 poin untuk mengakhiri konflik. Optimisme ini muncul meski Presiden Donald Trump juga mengirim sekitar 2.000 pasukan tambahan ke kawasan itu sebagai antisipasi.
Padahal, sebelumnya emas sempat terpuruk. Harga pernah jatuh hingga 25% dari puncaknya karena konflik Iran memicu lonjakan harga energi. Kekhawatiran inflasi pun meroket, diikuti ekspektasi bahwa suku bunga tinggi akan bertahan lebih lama. Gubernur The Fed, Michael Barr, bahkan menegaskan bank sentral mungkin perlu mempertahankan suku bunga tinggi untuk menjinakkan inflasi kabar buruk bagi emas.
Kembali ke pasar domestik, meski IHSG hari ini menguat pasca-libur panjang, performa sebulan terakhir tetap suram dengan koreksi mencapai 13%. Ketegangan geopolitik yang mendongkrak harga minyak global jadi salah satu biang keroknya. Tekanan juga datang dari sorotan lembaga rating internasional soal fiskal, plus isu investabilitas yang masih didiskusikan dengan MSCI. Hasil finalnya baru akan diketahui bulan Mei nanti.
Jadi, meski hijau hari ini, perjalanan pasar masih dipenuhi awan mendung. Investor tampaknya harus tetap waspada.
Artikel Terkait
Laporan Keuangan Gemilang Tak Cegah Saham Pop Mart Anjlok 20% di Hong Kong
Saham ICON Melonjak 23,64% di Perdagangan Pertama Pasca-Lebaran
ESDM Tegaskan Stok BBM dan LPG Aman Meski Filipina Darurat Energi
IHSG Rebound 1,3% ke 7.199 Didorong Sektor Energi dan Industri