Pernyataan Ketua The Fed Jerome Powell semakin mengukuhkan suasana hati pasar. Powell menegaskan, langkah penurunan suku bunga sangat bergantung pada perkembangan inflasi ke depan. Situasi geopolitik di Timur Tengah dan gejolak harga energi disebutnya sebagai sumber ketidakpastian tambahan. Intinya, jangan harap suku bunga turun dalam waktu dekat.
Lalu, ke mana Bitcoin akan melangkah?
Untuk saat ini, pergerakan harga berkutat di kisaran $70.000. Area $70.000–$72.000 kini jadi level support krusial yang dipantau ketat. Selama level itu bertahan, harga berpeluang stabil dalam jangka pendek. Apalagi arus dana institusional yang masuk tadi bisa membantu menahan tekanan jual.
Tapi waspadalah. Jika level support itu jebol, koreksi harga berpotensi berlanjut lebih dalam.
Di tengah kondisi makro yang mendikte sentimen, Antony Kusuma punya pandangan lain. Menurutnya, fase konsolidasi seperti ini justru bisa jadi kesempatan.
Bagi investor, momen koreksi bisa dimanfaatkan untuk menata ulang strategi dengan lebih bijak. Kuncinya adalah manajemen risiko yang tepat dan fokus pada tujuan jangka panjang. Penerapan strategi seperti Dollar Cost Averaging (DCA) disebutnya bisa membantu investor menghadapi gejolak pasar dengan lebih tenang dan disiplin.
Jadi, meski grafik merah mendominasi layar, bukan berarti ceritanya selesai. Ini hanya babak baru dalam dinamika pasar kripto yang tak pernah benar-benar berhenti bergerak.
Artikel Terkait
Saham Energi Boy Thohir Jadi Penopang Pasar di Tengah Pelemahan IHSG
Menkeu Purbaya Bicara Beban Jabatan dan Rencana Bantu Pedagang Terbelit Utang
Kemenhub Klaim Harga Tiket Mudik Masih Wajar, OTA Dituding Sebabkan Persepsi Mahal
Gangguan Pasokan Timur Tengah Ancam Kerek Harga Aluminium