Sepuluh Tahun Lalu, Marshanda Tak Perjuangkan Hak Asuh. Kini, Jawaban Sienna Bikin Hati Lega.
Keputusan Marshanda untuk tidak mengajukan banding atas hak asuh putrinya, Sienna, pasca perceraian dengan Ben Kasyafani dulu sempat jadi tanda tanya. Ternyata, pilihan itu diambilnya dengan pertimbangan yang sangat mendalam, meski harus dibayar mahal: berpisah dari sang buah hati selama satu dekade.
Rasanya pasti tak mudah. Bayangkan, harus melepas pengasuhan sehari-hari pada anak yang sangat dicintai. Saat itu, Sienna kecil berada di bawah pengawasan penuh Ben, yang memenangkan hak asuh. Tapi Caca sapaan akrab Marshanda punya keyakinan lain. Ia percaya mantan suaminya itu adalah pribadi yang dewasa, dan mereka berdua bisa menjalani co-parenting dengan baik meski status sudah berubah.
“Waktu proses cerai, dan gue tidak naik banding untuk berjuang lebih keras memenangkan hak asuh Sienna,” ujar Marshanda dalam sebuah unggahan di Instagram pribadinya akhir pekan lalu.
“Karena gue percaya bahwa mantan suami gue adalah seseorang yang dewasa dan kita akan bisa co-parenting sebaik yang kita bisa,” imbuhnya.
Namun begitu, jalan yang ia pilih tidak serta-merta mulus. Bahkan, pengacaranya sendiri sempat memberi peringatan yang cukup menusuk. Kata pengacara itu, suatu hari nanti Sienna bisa saja marah dan kecewa karena merasa ibunya tidak berjuang cukup keras untuk mendapatkan hak asuh.
“Ca, kalau kamu sekarang nggak naik banding, suatu hari nanti Sienna akan datang ke kamu dan dia akan marah,” begitu Marshanda mengingat perkataan pengacaranya dulu. “Dia akan bilang dia kecewa sama kamu karena enggak berjuang lebih keras.”
Nasihat itu sempat menggoyah, tentu saja. Tapi hati Marshanda sudah bulat. Ia punya alasan kuat yang tak tergoyahkan: dia tidak ingin Sienna suatu hari nanti punya memori tentang orang tuanya yang bertengkar sengit merebutkannya di pengadilan. Baginya, itu bukan warisan yang ingin dia tinggalkan untuk anak semata wayangnya.
Dan waktu membuktikan segalanya. Setelah sepuluh tahun berjalan, Sienna yang kini sudah remaja justru memilih untuk tinggal bersama ibunya. Keputusan sang putri itu seperti sebuah pembenaran yang manis atas pahitnya perjalanan yang telah dilalui.
Di satu momen yang jujur dan mengharukan, Marshanda pun memberanikan diri menanyakan hal yang mungkin selama ini mengganjal. Dia tanyakan langsung pada Sienna, apakah ada rasa kecewa karena dulu ibunya tidak berjuang lebih gigih.
Jawaban Sienna sederhana, tapi dalam maknanya.
“Ibu, aku enggak butuh ibu yang sempurna. Aku butuh ibu yang ada untuk aku,” kata Sienna, seperti ditirukan Marshanda.
Kalimat itu, sederhana saja, namun langsung meluluhkan segala keraguan dan kekhawatiran yang mungkin masih tersisa. Bagi Marshanda, itu adalah konfirmasi paling indah. Segala keyakinan buta dan imannya selama ini, ternyata tidak salah tempat.
“Dan itu, tepat pada saat itu adalah bukti bahwa keyakinan gue, imanku yang buta dan tak tergoyahkan kepada Tuhan, itu enggak sia-sia,” tandas Marshanda penuh syukur.
Kisahnya mengingatkan kita, bahwa terkadang keputusan terberat yang dipenuhi ketakutan dan ketidakpastian justru membawa pada akhir yang paling memuaskan hati. Bukan tentang menang atau kalah di pengadilan, tapi tentang menjaga martabat dan ketenangan batin seorang anak di masa depannya.
Artikel Terkait
Keluarga Almarhumah Tika Bantah Klaim Restu Poligami Pesulap Merah
Haris Perintahkan Tes DNA untuk Edwin, Curigai Adiknya Terlibat Kasus Aira
Virgoun Penuhi Panggilan Komnas Anak Terkait Laporan Inara Rusli
Kolaborasi Anggis Devaki dan Gery Gany Sukses Hidupkan Kembali Dirimu Yang Dulu