Harga minyak dunia yang kembali merangkak naik, bahkan menembus angka psikologis 100 dolar AS per barel, tentu saja menarik perhatian banyak pihak. Tak terkecuali para pelaku di industri energi dalam negeri. PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU), salah satunya, melihat gelombang kenaikan ini sebagai angin segar di tengah ketegangan geopolitik global yang justru memicunya.
Memang, situasi geopolitik yang memanas kerap mengganggu pasokan. Tapi di sisi lain, bagi perusahaan seperti RATU, tren harga yang kuat justru membawa sentimen positif. Logikanya sederhana: nilai keekonomian proyek-proyek hulu migas otomatis ikut terdongkrak. Aktivitas investasi di sektor ini pun diprediksi akan semakin bergairah.
Direktur RATU, Adrian Hartadi, mengaku optimis. Menurutnya, kinerja portofolio aset energi yang mereka miliki berpotensi meningkat seiring meroketnya harga komoditas.
"Dengan demikian, kenaikan harga minyak dunia berpotensi memberikan dampak positif terhadap pendapatan dan margin perseroan,"
ujar Adrian dalam keterangan resminya, Selasa (10/3/2026).
Lantas, aset mana yang bakal terdampak langsung? RATU punya kepentingan ekonomi di wilayah-wilayah produktif seperti Jabung dan Cepu. Aset-aset ini menghasilkan crude oil dan condensate, yang harganya memang berkorelasi kuat dengan patokan internasional. Jadi, ketika harga global naik, nilai dari ladang-ladang minyak mereka secara otomatis ikut terdorong ke atas.
Artikel Terkait
Iran Ancam Harga Minyak Bisa Tembus USD200 per Barel
Pasar Saham Asia Bangkit, Minyak Anjlok Usai Komentar Trump Soal Perang Timur Tengah
Rupiah Tertekan Global, Pelemahan Masih Lebih Moderat Dibanding Mata Uang Asia Lain
Menteri Keuangan Tegaskan Harga BBM Subsidi Belum Akan Dinaikkan