Di Jakarta, awal pekan ini, sebuah nota kesepahaman ditandatangani untuk sebuah proyek besar di Nusa Tenggara Barat. Nilainya tak main-main: Rp1,2 triliun. Proyek peternakan ayam terintegrasi di Kabupaten Sumbawa ini digarap bersama oleh Pemprov NTB, entitas bisnis SWF Danantara, dan PT Rajawali Nusantara Indonesia (ID Food). Harapannya jelas, selain memperkuat hilirisasi, ini jadi langkah serius untuk kemandirian pangan daerah.
Bagi Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal, ini lebih dari sekadar urusan investasi. Ada misi yang lebih besar di baliknya.
"Bagi NTB, ini bukan hanya proyek investasi biasa. Ini adalah langkah strategis untuk membangun ekosistem peternakan yang lebih adil dan memberdayakan peternak rakyat," ujarnya, Selasa (10/3/2026).
Penandatanganan MoU dilakukan Iqbal dan Direktur Utama ID Food, Ghimoyo, di Jakarta, Senin lalu. Acara itu juga dihadiri oleh Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, Agung Suganda.
Iqbal melihat ada persoalan mendasar yang selama ini membelit. Dua sektor kunci dalam industri perunggasan bibit ayam (DOC) dan pakan masih dikuasai pemain besar. Akibatnya, banyak peternak rakyat terjebak dalam pola kemitraan yang cuma membuat mereka bertahan, sulit sekali untuk benar-benar maju.
“Dengan hadirnya industri ayam terintegrasi di NTB, pemerintah berharap tercipta struktur usaha yang lebih sehat dan memberikan ruang lebih besar bagi peternak lokal berkembang secara mandiri,” kata Iqbal.
Masalahnya tak cuma di struktur usaha. Di sisi lain, NTB sendiri masih mengalami defisit pasokan untuk produk peternakan, terutama telur dan daging ayam. Kebutuhan itu masih mengandalkan pasokan dari daerah lain. Padahal, kebutuhan diprediksi bakal melonjak, seiring dengan berjalannya program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Saat ini, jumlah penerima manfaat program tersebut di NTB telah mendekati seribu satuan layanan (SPPG). Artinya kebutuhan pasokan pangan, termasuk produk peternakan, akan terus meningkat,” terangnya.
Maka, proyek ini dianggap krusial. Selain untuk jaminan pasokan, juga membuka peluang ekonomi baru. Pemerintah daerah berjanji memberikan dukungan penuh, mulai dari perbaikan konektivitas logistik, infrastruktur, sampai penguatan ekosistem.
“Insya Allah, apa yang menjadi tanggung jawab kami di daerah akan kami selesaikan secepat mungkin agar proyek ini dapat segera berjalan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” jelas Iqbal.
MoU ini merupakan tindak lanjut dari peletakan batu pertama yang sudah dilakukan sebelumnya di Desa Serading, Kecamatan Moyo Hilir, Sumbawa. Proyeknya dirancang membangun sistem yang modern dan lengkap, mulai dari bibit, pakan, produksi, hingga pengolahan dan distribusi.
Direktur Utama ID Food, Ghimoyo, menyebut kapasitas BUMN pangannya siap mendukung. Jaringannya luas: 74 cabang distribusi, 24 cold storage, lebih dari seribu dry storage, dan armada logistik yang mencapai 900 unit tersebar di seluruh Indonesia.
Melalui kerja sama ini, ID Food akan membangun ekosistem terintegrasi secara bertahap. Di hulu, mereka akan urusi penyediaan bibit unggul, pakan, obat, dan vaksin.
Pada tahap produksi, peternak rakyat akan didorong lewat skema contract farming dan perjanjian offtake agar hasil panen punya kepastian pasar. Mereka juga akan dapat pelatihan, pendampingan teknis, serta akses pembiayaan dari berbagai skema kredit.
“Sementara pada tahap hilir, ID Food akan memperkuat pengolahan hasil peternakan melalui fasilitas rumah potong unggas, pengolahan karkas, hingga pengemasan produk, yang kemudian akan dipasarkan melalui jaringan distribusi nasional,” papar Ghimoyo.
Artikel Terkait
Rusia Ancam Targetkan Negara Eropa yang Terima Pengebom Nuklir Prancis
BPKH Bagikan Uang Saku Rp3,4 Juta per Jemaah Haji Embarkasi Solo
Salon Anastasia, Rumah Hangat bagi ODGJ yang Dipandang Sebelah Mata
Pria di Garut Diculik dan Dipaksa Makan Kotoran Ayam, Empat Pelaku Ditangkap