Namun begitu, ada secercah harapan yang meredam kepanikan. Harga minyak ternyata tidak bertahan lama di puncaknya. Kabarnya, negara-negara ekonomi besar seperti dalam forum G7 sedang mempertimbangkan langkah bersama untuk menstabilkan pasar energi. Presiden Prancis Emmanuel Macron sendiri yang menyebutkan rencana pembahasan pelepasan cadangan minyak darurat.
Efeknya langsung kelihatan. Harga Brent akhirnya mundur ke posisi sekitar USD102,18 per barel. Meski begitu, angka itu masih menunjukkan kenaikan signifikan, sekitar 10,2 persen dibanding penutupan pekan lalu. Jadi, meski ada pelonggaran, tekanan belum benar-benar hilang.
Dampak sektoralnya cukup jelas. Saham-saham perusahaan perjalanan dan pariwisata paling babak belur. Carnival Corp terpental 7,3 persen, Royal Caribbean Cruises ikut terjerembab 6,3 persen. Sektor perbankan juga ikut merana; saham Citigroup melemah 3 persen dan Morgan Stanley turun 2,3 persen.
Di sisi lain, ada juga yang justru diuntungkan dari situasi mencekam ini. Saham perusahaan pertahanan seperti Smith & Wesson dan Kratos Defense & Security Solutions naik sekitar 2 persen. Tapi anehnya, saham tambang emas seperti Barrick Gold dan Endeavour Silver malah ambles lebih dari 4 persen.
Pergerakan di logam mulia pun cukup menarik. Emas, yang biasanya jadi safe haven, justru melemah lebih dari 1 persen. Rupanya penguatan dolar AS di tengah ketidakpastian ini justru menekan harganya. Emas spot turun 1,5 persen ke USD5.092,89 per ons. Perak sedikit turun 0,3 persen, sementara platinum dan paladium malah catat kenaikan tipis.
Intinya, pasar lagi waspada banget. Setiap perkembangan dari Timur Tengah akan terus jadi penentu arah untuk hari-hari ke depan.
Artikel Terkait
Matahari Department Store Gelar RUPS Ganda di Tengah Penurunan Laba 2025
PGN Alokasikan Rp6 Triliun untuk Perkuat Infrastruktur Gas pada 2026
Lippo Cikarang Hibahkan Lahan 31,3 Hektare di Meikarta untuk Rumah Subsidi
Skrining Kesehatan Jiwa: 1 dari 10 Anak Alami Gejala Kecemasan atau Depresi