Di sisi lain, pergerakan di bursa komoditas lain juga memberi angin segar. Di Dalian, kontrak minyak kedelai naik 0,69 persen, sementara minyak sawitnya bahkan melesat 1,8 persen. Meski begitu, tidak semuanya hijau. Minyak kedelai di bursa Chicago malah terpantau turun hampir satu persen. Pasar minyak nabati memang selalu dinamis dan saling mempengaruhi.
Faktor lain yang berperan adalah nilai tukar. Ringgit Malaysia, mata uang yang digunakan untuk perdagangan kontrak ini, melemah 0,18 persen terhadap dolar AS. Bagi pembeli dari luar negeri, ini seperti dapat diskon. Minyak sawit jadi terasa lebih murah, dan permintaan pun terdorong.
Namun begitu, ceritanya tidak sepenuhnya mulus. Ada hambatan yang membatasi kenaikan lebih jauh. Data ekspor untuk bulan Februari ternyata jeblok, turun sekitar 21 sampai 22 persen dibanding Januari. Padahal, biasanya ada pembelian untuk persiapan Idulfitri. Penurunan ini cukup mengkhawatirkan.
Pelaku pasar juga tampaknya sedang menahan napas. Mereka menunggu sejumlah data penting dari China, importir utama dunia, yang akan rilis pekan depan. Data inflasi dan perdagangan dari Negeri Tirai Bambu itu akan jadi penentu arah berikutnya. Semua mata tertuju ke sana.
Jadi, meski sempat melesat, perjalanan harga CPO ke depan masih diwarnai ketidakpastian. Antara sentimen global yang panas dan data fundamental yang belum sepenuhnya mendukung.
Artikel Terkait
Lonjakan Harga Minyak Global Gagal Dongkrak Sektor Energi di Tengah Amukan IHSG
Menkeu Tegaskan THR Karyawan Swasta Tetap Kena Pajak, Sarankan Protes ke Perusahaan
Emas Rebound di Akhir Pekan, Tapi Catat Penurunan Mingguan Pertama dalam Lima Pekan
Harga Emas Antam Naik Rp35.000 per Gram, Tembus Rp3 Jutaan