Harga CPO Melonjak 8% dalam Seminggu, Terbesar Sejak November 2024

- Sabtu, 07 Maret 2026 | 14:40 WIB
Harga CPO Melonjak 8% dalam Seminggu, Terbesar Sejak November 2024

Di sisi lain, pergerakan di bursa komoditas lain juga memberi angin segar. Di Dalian, kontrak minyak kedelai naik 0,69 persen, sementara minyak sawitnya bahkan melesat 1,8 persen. Meski begitu, tidak semuanya hijau. Minyak kedelai di bursa Chicago malah terpantau turun hampir satu persen. Pasar minyak nabati memang selalu dinamis dan saling mempengaruhi.

Faktor lain yang berperan adalah nilai tukar. Ringgit Malaysia, mata uang yang digunakan untuk perdagangan kontrak ini, melemah 0,18 persen terhadap dolar AS. Bagi pembeli dari luar negeri, ini seperti dapat diskon. Minyak sawit jadi terasa lebih murah, dan permintaan pun terdorong.

Namun begitu, ceritanya tidak sepenuhnya mulus. Ada hambatan yang membatasi kenaikan lebih jauh. Data ekspor untuk bulan Februari ternyata jeblok, turun sekitar 21 sampai 22 persen dibanding Januari. Padahal, biasanya ada pembelian untuk persiapan Idulfitri. Penurunan ini cukup mengkhawatirkan.

Pelaku pasar juga tampaknya sedang menahan napas. Mereka menunggu sejumlah data penting dari China, importir utama dunia, yang akan rilis pekan depan. Data inflasi dan perdagangan dari Negeri Tirai Bambu itu akan jadi penentu arah berikutnya. Semua mata tertuju ke sana.

Jadi, meski sempat melesat, perjalanan harga CPO ke depan masih diwarnai ketidakpastian. Antara sentimen global yang panas dan data fundamental yang belum sepenuhnya mendukung.

Editor: Yuliana Sari


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar