Lonjakan harga energi ini, sayangnya, datang di waktu yang salah. Ia langsung memicu kekhawatiran inflasi baru. Biaya rata-rata bensin di AS dilaporkan melonjak 27 sen. Situasi ini berpotensi menekan margin perusahaan dan daya beli konsumen, sekaligus mempersulit tugas Federal Reserve.
Di tengah ketegangan, ada sedikit kabar yang mungkin bisa meredakan. Menurut sejumlah sumber, Arab Saudi disebut sedang meningkatkan keterlibatan diplomatiknya dengan Iran untuk meredam konflik. Tentu saja, efektivitas upaya ini masih harus ditunggu.
Tekanan lain datang dari dalam negeri AS sendiri. Laporan penggajian non-pertanian untuk Februari mengejutkan banyak pihak. Alih-alih menambah lapangan kerja, ekonomi AS justru kehilangan 92 ribu pekerjaan. Angka ini jauh meleset dari ekspektasi para ekonom yang memperkirakan penambahan 58 ribu. Tingkat pengangguran pun naik menjadi 4,4 persen.
Data buruk ini justru dilihat dari sudut yang berbeda oleh sebagian pelaku pasar. Chris Zaccarelli dari Northlight Asset Management berkomentar,
Pandangan itu rupanya banyak diikuti. Alat CME FedWatch menunjukkan trader mulai meningkatkan taruhan untuk pemotongan suku bunga yang lebih cepat, menanggapi data pekerjaan yang lemah.
Selain itu, data penjualan ritel untuk Januari juga dirilis di hari yang sama. Angka utamanya turun 0,2 persen, sedikit lebih baik dari perkiraan. Namun, angka intinya justru datar dan mengecewakan. Rupanya, pekan lalu Wall Street harus menelan banyak pil pahit sekaligus.
Artikel Terkait
Emas Rebound di Akhir Pekan, Tapi Catat Penurunan Mingguan Pertama dalam Lima Pekan
Harga Emas Antam Naik Rp35.000 per Gram, Tembus Rp3 Jutaan
IHSG Anjlok 8%, Investor Asing Lepas Saham Blue Chip Senilai Rp2,48 Triliun
IFSH Cetak Kenaikan 81,56% di Tengah Pelemahan IHSG 7,89%