“Strategi ini penting untuk memperkuat ketahanan korporasi dalam menghadapi tantangan ke depan,” tambahnya.
Arus kas dari aktivitas operasi memang turun 16,3 persen menjadi USD 657 juta. Penurunan ini terutama karena pembayaran ke pemasok yang membengkak dan beban operasi lainnya. Meski begitu, penerimaan dari pelanggan justru naik 7,1 persen, menunjukkan permintaan yang tetap sehat. PGN mencatat EBITDA sebesar USD 971,2 juta, yang mencerminkan fundamental bisnis inti yang masih tangguh.
Fajriyah menekankan, prioritas utama tetaplah menjaga keandalan penyaluran energi.
“Keandalan penyaluran gas bumi bagi pelanggan tetap menjadi prioritas utama PGN. Kami mengoptimalkan pemanfaatan infrastruktur gas dan LNG serta menerapkan pengelolaan volume secara adaptif,” ujarnya.
Di segmen lain, bisnis infrastruktur LNG menunjukkan tren positif. Volume regasifikasi melalui FSRU Lampung dan Terminal Arun melonjak 17 persen menjadi 254 BBTUD. Sementara di pasar global, PGN berhasil mengirim tujuh kargo LNG ke pasar internasional sepanjang 2025. Kontribusi anak perusahaan dan afiliasi juga menguat, terlihat dari kenaikan volume pemrosesan LPG dan pencapaian lifting minyak dan gas.
Singkatnya, tahun 2025 menjadi tahun yang penuh dinamika bagi PGN. Di balik tekanan pada laba bersih, perusahaan tetap menunjukkan ketahanan operasional dan komitmen pada ekspansi infrastruktur, sambil bersiap menghadapi tantangan di tengah gejolak industri energi.
Artikel Terkait
Harga CPO Melonjak 8% dalam Seminggu, Terbesar Sejak November 2024
Lonjakan Harga Minyak Global Gagal Dongkrak Sektor Energi di Tengah Amukan IHSG
Menkeu Tegaskan THR Karyawan Swasta Tetap Kena Pajak, Sarankan Protes ke Perusahaan
Emas Rebound di Akhir Pekan, Tapi Catat Penurunan Mingguan Pertama dalam Lima Pekan