Di sisi lain, Garuda menyadari betul bahwa rating Skytrax jadi acuan penting bagi calon penumpang. Makanya, langkah perbaikan ini juga dikaitkan dengan positioning mereka sebagai maskapai layanan penuh. Mereka ingin kembali mengedepankan "Indonesia Hospitality" – bukan sekadar slogan, tapi benar-benar dirasakan di setiap produk dan pengalaman pelanggan.
Andreas menambahkan, semua upaya ini selaras dengan niat untuk memperkuat brand Garuda di kancah penerbangan nasional. Mereka masih ingin diakui sebagai pemain kunci.
"Upaya tersebut juga diselaraskan dengan langkah penguatan presensi brand Garuda Indonesia sebagai salah satu key player industri penerbangan nasional," ujar Andreas.
Baginya, tahun 2026 ini adalah momentum. Saat yang tepat untuk mempercepat transformasi di semua lini layanan, sambil terus melakukan konsolidasi internal. Tujuannya jelas: memperkuat kinerja operasional dan tentu saja, keuangan perusahaan.
Jadi, penurunan rating ini rupanya dijadikan cambuk. Garuda berjanji akan bangkit. Tinggal kita tunggu, apakah janji ini akan terbukti di langit.
Artikel Terkait
Harga Emas Antam Naik Rp35.000 per Gram, Tembus Rp3 Jutaan
IHSG Anjlok 8%, Investor Asing Lepas Saham Blue Chip Senilai Rp2,48 Triliun
IFSH Cetak Kenaikan 81,56% di Tengah Pelemahan IHSG 7,89%
Wall Street Ditutup Merah Pekan Lalu, Dihantam Ketegangan Timur Tengah dan Data Pekerjaan AS yang Lemah