MNC Tourism Indonesia (KPIG) tak main-main dengan proyek besarnya. Mereka sedang menggeber pengembangan MNC Lido City, sebuah kawasan ekonomi khusus pariwisata terpadu yang diyakini bakal jadi mesin pertumbuhan jangka panjang perusahaan. Gagasannya sederhana sekaligus ambisius: menyatukan bisnis pariwisata, perhotelan, hingga properti premium dalam satu ekosistem yang saling terhubung.
Edi Yanto, CFO perusahaan, bicara soal skala proyek ini. "KEK Lido yang kita punya sekarang seluas 1.040 hektare, dapat statusnya sejak 2022," ujarnya dalam sebuah forum investor di BEI, Jakarta, Kamis lalu.
Namun begitu, itu baru permulaan. Masih ada cadangan lahan sekitar 2.000 hektare lagi yang siap dikembangkan nanti. Untuk batch pertama seluas 1.040 hektare itu saja, pengerjaannya diproyeksikan bakal makan waktu hingga sepuluh tahun ke depan.
Secara total, kawasan Lido City nantinya bakal mencakup area seluas 3.000 hektare lebih. Status KEK-nya sendiri bukan sekadar label. Kawasan ini menawarkan sejumlah insentif menggiurkan bagi calon investor, mulai dari pembebasan PPN dan PPnBM, hingga fasilitas tax holiday. Menurut Edi, ini jadi daya tarik utama.
"Benefitnya ada dua, fiskal dan nonfiskal. Banyak yang dibebaskan, PPN gratis, tax holiday, dan lain-lain," jelasnya.
Di sisi lain, kemudahan nonfiskalnya juga tak kalah penting. Layanan perizinan terpadu, kepemilikan asing penuh di sektor tertentu, dan proses pengurusan tanah yang lebih cepat dijanjikan bisa memangkas birokrasi.
Artikel Terkait
IHSG Menguat 1,76%, Saham KOKA dan RODA Pacu Kenaikan
IHSG Bangkit 1,76% ke 7.710, Meski Nilai Transaksi Menyusut Tajam
BUMI Pertahankan Produksi Batu Bara 73-75 Juta Ton pada 2025
Pemerintah Diimbai Siapkan Ruang Fiskal Lebih Besar Antisipasi Dampak Krisis Global