“Konflik militer yang sedang berlangsung antara Amerika Serikat (AS)/Israel dan Iran telah mengirimkan gelombang kejut ke pasar energi global,” ujarnya.
“Selat Hormuz, jalur sempit vital bagi perdagangan energi global, secara efektif telah berhenti beroperasi akibat konflik tersebut. Seiring situasi berkembang, durasi dan intensitas konflik akan menjadi faktor kunci yang membentuk lanskap energi dalam waktu dekat,” tambah Hottner.
Secara angka, kontrak berjangka minyak mentah WTI untuk bulan terdekat naik 0,8 persen ke USD71,80 per barel. Sementara itu, Brent menguat lebih kuat, 1,1 persen, menuju USD78,59 per barel. Kenaikan ini melanjutkan momentum dari Senin (2/3) di mana kedua acuan minyak itu melesat lebih dari 6 persen. Jadi, meski pasar komoditas berapi-api, pasar saham lokal justru memilih untuk berhati-hati.
Perlu diingat, keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan investor. Data dan analisis ini hanya gambaran situasi hari itu.
Artikel Terkait
Saham OILS Melonjak 12% di Tengah Konflik Timur Tengah Meski Tak Berkaitan dengan Minyak Bumi
IHSG Tipis Menguat ke 8.019,55, Sektor Terbelah dan Saham-saham Ekstrem Bergolak
Dua Investor Suntik Rp3,2 Triliun untuk Pabrik Kimia Strategis di Cilegon
IHSG Diproyeksi Terkoreksi, Dibayangi Capital Outflow dan Inflasi 4,76%