Di balik angka ekuitas negatif, tantangan lain juga membayangi. Beban liabilitas perseroan terlihat cukup signifikan, dengan posisi utang berbunganya yang tercatat sebesar Rp980 miliar. Situasi ini menciptakan tekanan tersendiri pada struktur modal dan kesehatan finansial perusahaan.
Namun, di tengah kondisi modal kerja yang tipis dan beban utang yang besar, manajemen justru mengumumkan rencana ekspansi yang cukup berani. Perusahaan berencana mengalokasikan dana hingga Rp780 miliar untuk akuisisi sejumlah properti di berbagai daerah. Langkah ini dinilai banyak pihak sebagai sinyal kepercayaan diri internal terhadap prospek bisnis ritel ke depan, meski diwarnai dengan kondisi pasar yang beragam.
Teuku Fahmi Ariandar, Kepala Divisi Peraturan dan Layanan Perusahaan Tercatat BEI, menegaskan jadwal pelaksanaan kebijakan baru ini. "Perubahan ini mulai efektif pada tanggal 12 Februari 2026," jelasnya dalam pengumuman resmi.
Respons Pasar terhadap Pengumuman
Menariknya, respons pasar terhadap serangkaian pengumuman ini justru positif pada sesi perdagangan terakhir. Saham MPPA berhasil meroket 11,5 persen dan ditutup pada level Rp58 per lembar. Lonjakan harga itu turut mendongkrak nilai kapitalisasi pasar perusahaan menjadi sekitar Rp752 miliar, menunjukkan adanya sentimen dan ekspektasi tertentu dari para investor meski status perdagangan sahamnya akan berubah.
Artikel Terkait
OPEC+ Naikkan Kuota Produksi, Namun Gangguan di Selat Hormuz Hambat Realisasi
Indonesia dan Korea Selatan Sepakati Kerja Sama Jasa Instalasi Perairan untuk Ekspansi Migas
Analis Proyeksi Harga Minyak Bisa Tembus USD116 per Barel Pekan Depan
BNI Lepas 99,9% Saham BNI Asset Management ke Danantara Rp359,64 Miliar