Hampir lima tahun setelah go public, dana hasil IPO Bukalapak ternyata belum habis terpakai. Faktanya, hingga akhir tahun 2025 lalu, masih tersisa dana segar yang jumlahnya fantastis: Rp 4,3 triliun. Padahal, total dana yang berhasil dihimpun perusahaan dari penawaran perdana sahamnya di Agustus 2021 itu, setelah dipotong biaya, mencapai Rp 21,3 triliun. Artinya, yang sudah digunakan baru sekitar Rp 17 triliun.
Lantas, di mana uang sisa yang begitu besar itu disimpan? Bukalapak memilih instrumen keuangan yang relatif aman. Sebagian besar, tepatnya Rp 1,2 triliun, ditempatkan dalam deposito. Sisanya tersebar di giro dan obligasi negara.
Menurut Cuti Fika Lutfi, Sekretaris Perusahaan Bukalapak, langkah ini merupakan bagian dari strategi pengelolaan keuangan yang sangat berhati-hati.
"Instrumen tersebut dipilih karena memiliki tingkat risiko yang rendah, likuiditas yang memadai, serta sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku,"
jelas Fika, seperti dikutip Selasa (17/2/2026). Ia menegaskan, kebijakan ini bukan sekadar menimbun uang. Tujuannya ganda: menjaga nilai dana sekaligus memastikan ketersediaannya tetap optimal untuk rencana bisnis yang sudah disusun.
Artikel Terkait
Laba Bersih Trisula International Melonjak 33% pada 2025 Didorong Ekspor
BSA Logistics Targetkan Rp302 Miliar dari IPO, Mayoritas untuk Akuisisi Perusahaan Afiliasi
WIKA Pangkas Utang Rp3,87 Triliun Meski Rugi Bersih Membengkak
WBSA Jadi Emiten IPO Pertama 2026, Harga Saham Perdana Rp168