Gemerlap perayaan Imlek tahun ini benar-benar hidup di berbagai penjuru Indonesia. Dan seperti biasa, atraksi barongsai selalu jadi magnet utama yang menyedot kerumunan.
Di Palembang, misalnya. Kelenteng Dewi Kwan Im sejak pagi sudah dipadati umat Tionghoa dan warga sekitar. Mereka tak hanya datang untuk beribadah, tapi juga menantikan satu hal: pertunjukan spektakuler sang singa naga. Suasana khidmat saat doa-doa dipanjatkan perlahan berganti dengan riuh rendah kegembiraan begitu musik pengiring barongsai mulai menggema.
Dentuman Tambur dan Sorak Penonton
Suara tambur, gong, dan simbal memecah kesunyian. Di halaman kelenteng, barongsai meliuk-liuk dengan lincah, dikelilingi lautan penonton yang antusias. Sorak-sorai paling keras terdengar saat para pemainnya memamerkan gerakan akrobatik di atas tonggak besi. Spontan, tepuk tangan riuh membahana ketika sang barongsai berhasil mengambil angpao yang digantung tinggi simbol rezeki dan keberuntungan itu.
Lina (34), salah seorang pengunjung, terlihat sumringah. Ia mengaku bersyukur bisa kembali merayakan Imlek di kelenteng bersama keluarga.
"Setiap tahun kami selalu datang untuk berdoa agar diberikan kesehatan dan kelancaran rezeki. Tahun ini terasa sangat meriah, apalagi pertunjukan barongsainya sangat menghibur dan membawa suasana penuh semangat," ujar Lina, Selasa (17/2).
Menurutnya, kemeriahan ini punya daya tarik yang lebih dalam. Bukan cuma soal hiburan.
"Bukan hanya umat Tionghoa yang datang, tapi juga masyarakat umum. Ini jadi momen kebersamaan yang indah," katanya.
Harapan yang Terbang Bebas
Namun begitu, perayaan di Kelenteng Dewi Kwan Im tak cuma soal barongsai. Ada ritual lain yang sarat makna: melepas burung pipit. Tradisi ini dilakukan usai rangkaian ibadah, sebagai simbol membuang sial dan membuka lembaran baru.
Saat pintu sangkar dibuka, puluhan burung pipit itu berhamburan ke angkasa. Mereka terbang bebas, disaksikan oleh tatapan penuh harap dari umat yang hadir. Bagi mereka, momen itu adalah doa yang diwujudkan melepas energi negatif tahun lalu, sambil memohon kedamaian dan rezeki untuk tahun depan.
Michael (41) adalah salah satu yang rutin mengikuti tradisi ini.
"Kami percaya ini sebagai simbol membuang hal-hal buruk di tahun lalu. Saat burung dilepas dan terbang bebas, itu seperti harapan dan doa kami ikut terbang, semoga tahun ini lebih baik dan penuh berkah," ujarnya, Selasa (17/2/2026).
Bagi Michael, ritual ini lebih dari sekadar upacara. Ia adalah momen refleksi.
"Intinya bukan hanya melepas burung, tapi juga melepas beban pikiran dan kesalahan yang pernah dibuat. Kita mulai lagi dari awal dengan hati yang lebih bersih," katanya.
Jadi, itulah sekelumit suasana Imlek di Palembang. Sebuah perpaduan antara keriangan, spiritualitas, dan harapan akan awal yang baru. Semuanya berbaur, menciptakan semangat kebersamaan yang hangat.
Artikel Terkait
Liam Millar: Dukungan Personal Jesse Marsch Kunci Bangkit dari Cedera Menuju Piala Dunia 2026
Israel Larang Imam Masjid Al-Aqsa Masuk Kompleks Suci Jelang Ramadan
Denpasar Siapkan Festival Lampion Sambut Imlek 2026 dan HUT ke-238 Kota
Ketua Komisi VIII Apresiasi Penetapan Awal Ramadan 2026 Hasil Sidang Isbat