S&P Tetap Lanjutkan Rebalance Indeks Indonesia di Tengah Keraguan Pesaing

- Senin, 16 Februari 2026 | 18:25 WIB
S&P Tetap Lanjutkan Rebalance Indeks Indonesia di Tengah Keraguan Pesaing

Di tengah keraguan sejumlah lembaga besar, S&P Dow Jones Indices (DJI) justru memilih untuk tetap melanjutkan rencananya. Mereka akan melakukan penyesuaian kuartalan portofolio indeks untuk pasar Indonesia pada Maret mendatang. Ini adalah langkah yang cukup mengejutkan.

Menurut laporan Business Times, Senin (16/2/2026), pihak S&P mengaku terus memantau perkembangan, termasuk pedoman baru dari BEI. Namun begitu, rebalance Maret 2026 itu akan tetap dijalankan. Prosedurnya mengikuti metodologi standar yang berlaku saat ini, begitu penjelasan mereka.

Keputusan ini jelas membuat S&P tampil beda. Dua pesaing utamanya, MSCI dan FTSE Russell, justru memilih untuk menunda dan meningkatkan pengawasan. Kekhawatiran mereka sama: soal transparansi kepemilikan saham di Indonesia. Isunya, ketidakjelasan ini bisa membuat porsi free float jumlah saham yang benar-benar bisa diperdagangkan publik terlihat membengkak dari angka sebenarnya.

Situasinya memang sedang tidak mudah. Regulator kita sedang berusaha keras memulihkan kredibilitas pasar. Sentimen investor pun lagi lesu, terbebani ancaman penurunan peringkat utang negara. Belum lagi peringatan keras dari MSCI soal risiko degradasi status Indonesia ke frontier market. Tekanannya nyata.

Namun, langkah S&P ini justru dilihat sebagai secercah harapan. Nirgunan Tiruchelvam, analis dari Aletheia Capital, punya pandangan menarik.

Menurutnya, keputusan S&P bisa jadi sinyal bahwa otoritas Indonesia dinilai sedang membuat kemajuan. Kemajuan dalam memenuhi tuntutan para penyedia indeks global itu.

Sejak gejolak di Januari lalu, janji reformasi memang terus digaungkan. Otoritas berkomitmen meningkatkan transparansi dan likuiditas. Beberapa wacananya antara lain menaikkan batas minimum free float menjadi 15 persen, plus memperketat aturan keterbukaan informasi perusahaan. Sekarang, tinggal eksekusinya yang dinanti.

Jadi, meski dua raksasa lain memilih untuk menunggu dan melihat, S&P justru melanjutkan langkah. Sebuah keputusan yang patut dicermati dampaknya ke depan.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar