Di sisi lain, sektor pembiayaan juga tak ketinggalan. Piutang perusahaan pembiayaan diperkirakan akan tumbuh moderat, sekitar 6-8 persen di tahun yang sama.
Yang menarik, OJK juga menyoroti tren digitalisasi yang kian masif. Mereka memproyeksikan total permintaan skor kredit melalui innovative credit scoring bakal mencapai 200 juta permintaan. Sementara itu, nilai transaksi yang mengalir melalui aggregator diprediksi membengkak hingga Rp27 triliun. Angka-angka ini menunjukkan bagaimana teknologi semakin dalam menyusup ke jantung industri keuangan.
Namun begitu, Friderica menegaskan bahwa target Rp250 triliun di pasar modal itu bukan pekerjaan mudah. Pencapaiannya mustahil diraih tanpa kerja sama yang solid.
"Kami berharap sinergi dan kolaborasi dari seluruh pihak untuk bersama-sama mendukung pembangunan ekonomi dan pertumbuhan ekonomi nasional di 2026," katanya menekankan.
Pesan itu jelas. Dibutuhkan usaha kolektif dari seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pelaku industri dan investor, hingga berbagai kementerian dan lembaga terkait. Target itu, pada akhirnya, adalah sebuah gambaran optimis sekaligus tantangan nyata yang menanti di tahun 2026.
Artikel Terkait
Gubernur Fed Stephen Miran Desak Pemotongan Suku Bunga Lebih Agresif Dukung Pasar Tenaga Kerja
Wall Street Menguat Didorong Pernyataan Trump Soal Iran, Teheran Bantah Klaim Kontak
TOWR Catat Laba Bersih Rp3,68 Triliun di 2025, Tumbuh 10,3%
Tiga Emiten Siap Bagikan Dividen Tunai Rp13,17 Triliun pada April 2026