Sementara itu, percakapan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping berlangsung positif, meredam ketegangan perdagangan antara dua raksasa ekonomi dunia. Trump mengungkapkan rencana kunjungan ke China pada April, dengan pembahasan yang mencakup perdagangan, militer, Taiwan, hingga pembelian energi.
Pertumbuhan Ekonomi Domestik Jadi Penopang
Di tengah tekanan eksternal, fundamental ekonomi Indonesia menunjukkan ketahanan. Badan Pusat Statistik melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2025 mencapai 5,11 persen (year-on-year), melampaui konsensus ekonom yang sebelumnya memperkirakan angka maksimal 5,1 persen. Capaian ini juga lebih tinggi dibandingkan realisasi tahun 2024 sebesar 5,03 persen.
Dari sisi produksi, kontribusi utama berasal dari industri pengolahan, perdagangan, pertanian, serta informasi dan komunikasi. Sementara dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga dan pembentukan modal tetap bruto menjadi penggerak utama. Secara geografis, pertumbuhan di wilayah Jawa dan Sulawesi tercatat berada di atas rata-rata nasional.
Proyeksi untuk Perdagangan Berikutnya
Mempertimbangkan seluruh faktor tersebut, Ibrahim Assuaibi memproyeksikan pergerakan rupiah ke depan masih akan fluktuatif dengan bias melemah. Ia memperkirakan mata uang nasional berpotensi bergerak dalam rentang Rp16.840 hingga Rp16.900 per dolar AS pada sesi perdagangan selanjutnya. Analisis ini mencerminkan keseimbangan yang rapuh antara ketahanan data makro domestik dan gejolak sentimen risiko global yang masih perlu dipantau ketat oleh pelaku pasar.
Artikel Terkait
CP Prima Catat Laba Bersih Rp424 Miliar, Naik 32% pada 2025
Laba Bersih INKP dan TKIM Berjalan Berbeda Meski Penjualan Sama-Sama Turun Tipis
Kementerian Pertanian Siapkan Rp9,5 Triliun untuk Hilirisasi 7 Komoditas Andalan
Harga CPO Menguat Pekan Ketiga, Didukung Konflik Timur Tengah dan Harga Energi