Setelah sempat anjlok dari rekor tertingginya, harga emas dunia kembali merangkak naik. Yang menarik, justru di saat volatilitas mengguncang, minat beli dari kalangan investor ritel malah terlihat tangguh. Antrian panjang masih bisa disaksikan di sejumlah pusat keuangan Asia-Pasifik, dari Singapura hingga Sydney.
Menurut data Bloomberg, pada perdagangan Senin (2/2/2026) sekitar pukul 18.45 waktu New York, harga emas berada di level USD 4.731,50 per troy ounce. Angka itu mencerminkan kenaikan cukup signifikan, yaitu 1,50 persen atau setara USD 70,12. Sepanjang hari, pergerakannya berfluktuasi antara USD 4.660,98 dan 4.763,35. Kalau dilihat dari awal tahun, emas sudah naik hampir 8 persen.
Koreksi tajam yang terjadi Jumat lalu rupanya cuma sesaat. Reli panjang sebelumnya digerakkan oleh ketidakpastian geopolitik dan tekanan politik dari Presiden AS Donald Trump terhadap Federal Reserve. Nah, penurunan harga itulah yang justru dimanfaatkan banyak investor kecil untuk masuk.
Di Singapura, antrian pembeli masih mengular pada hari Senin. United Overseas Bank Ltd., satu-satunya bank di sana yang jual emas fisik ke ritel, ramai dipadati orang.
“Saya datang untuk membeli karena harga emas turun hari ini,” ujar Ng Beng Choo.
Pensiunan berusia 70-an itu dapat tiket antrian jam setengah sepuluh pagi. Tapi enam jam lebih berlalu, dia masih menunggu dipanggil.
Fenomena serupa terlihat jauh di selatan, tepatnya di Australia. Di pusat kota Sydney, antrian di gerai ABC Bullion dekat Martin Place begitu panjang sampai mengular ke jalan.
“Saya kehilangan banyak uang hari Jumat,” tutur Alex, seorang pria berusia 20-an yang mengantri. “Tapi besok adalah hari baru.”
Singapura memang tetap jadi magnet. Statusnya sebagai hub kekayaan global, ditambah kebijakan bebas pajak untuk emas batangan berkualitas investasi, membuatnya selalu ramai. Tampaknya, investor ritel masih percaya faktor pendorong kenaikan emas belum benar-benar hilang. Ketidakpastian seputar kebijakan Trump dan pelemahan mata uang global dinilai masih akan menyokong harga.
Deutsche Bank AG bahkan masih optimis. Dalam catatan mereka hari Senin, bank itu mempertahankan proyeksi harga emas bisa menembus USD 6.000 per ons.
Lain cerita di Thailand. Di sana, investor cenderung memilih bertahan. Menurut pelaku pasar, orang lebih memilih menyimpan emas yang sudah mereka punya ketimbang melepasnya di tengah gejolak.
“Tren pembelian masih berlanjut di Thailand,” kata Kuhapremkit.
“Mereka mempertahankan posisi lama dan hanya menahannya lalu melihat perkembangannya,” imbuhnya.
Jadi, meski grafik naik-turun, minat terhadap logam kuning ini ternyata tak mudah padam. Antrian di berbagai kota itu bicara lebih keras dari sekadar angka di layar.
Artikel Terkait
Laba Bersih PTBA Melonjak 104,8 Persen di Kuartal I-2026 Meski Pendapatan Stagnan
Paradise Indonesia (INPP) Cetak Laba Rp44 Miliar di Kuartal I-2026, Segmen Komersial Jadi Motor Pertumbuhan
Wall Street Beragam di Tengah Reli Bulanan, S&P 500 dan Nasdaq Catat Kenaikan Terbaik Sejak 2020
Wall Street Berakhir Campur Aduk, S&P 500 Catat Kenaikan Bulanan Terbesar Sejak 2020