Tak cuma itu. Ada juga kesepakatan untuk meningkatkan ekspor Inggris ke pasar China, penguatan komisi perdagangan bersama, hingga kolaborasi di sektor kesehatan. Bahkan, mereka sepakat bekerja sama menargetkan rantai pasok yang dimanfaatkan jaringan penyelundup migran. Kabar baik lainnya datang dari kantor PM Inggris: China setuju menurunkan tarif impor untuk wiski Inggris, dari 10 persen jadi hanya 5 persen. Ini tentu angin segar bagi industri minuman keras Inggris.
Di sisi lain, hubungan kedua negara sebenarnya sempat membeku. Kemerosotan terjadi sejak 2020, ketika Beijing memberlakukan undang-undang keamanan nasional di Hong Kong dan melakukan penindasan terhadap aktivis pro-demokrasi di sana. Ketegangan politik itu nyata.
Tapi realitas ekonominya berbicara lain. China tetap saja menjadi mitra dagang terbesar ketiga bagi Inggris. Pemerintah Starmer jelas punya hitungan sendiri. Mereka berharap kerja sama bisnis yang lebih erat dengan raksasa ekonomi nomor dua dunia ini bisa mendongkrak pertumbuhan ekonomi sebuah target utama Starmer.
Gambaran niat itu makin jelas dengan kehadiran sekitar 60 pemimpin bisnis dalam rombongan Starmer. Salah satunya adalah Pascal Soriot, Direktur Utama AstraZeneca. Perusahaan farmasi raksasa Inggris itu bahkan mengumumkan rencana investasi besar-besaran senilai 15 miliar dolar AS di China hingga 2030, untuk memperluas fasilitas produksi dan risetnya.
Lawatan Starmer belum berakhir. Setelah dari Beijing, ia akan melanjutkan perjalanan ke Shanghai, sebelum akhirnya membuat singgah singkat di Jepang. Perjalanan panjang ini menunjukkan satu hal: meski mendapat peringatan, Inggris memilih untuk menjalankan strategi ekonominya dengan caranya sendiri. Hasilnya? Kita lihat saja nanti.
Artikel Terkait
IHSG Pacu Kenaikan 97 Poin, Saham Tekstil Jadi Primadona di Akhir Pekan
Pasca Trading Halt, Direktur Utama BEI Iman Rahman Mengundurkan Diri
Puluhan Emiten BEI Terancam Delisting Gara-gara Aturan Free Float
Ketua OJK Dapat Kabar Mundurnya Dirut BEI dari YouTube