Kunjungan Perdana Menteri Keir Starmer ke China jelas bukan sekadar lawatan biasa. Ini adalah kunjungan pertama seorang PM Inggris dalam delapan tahun terakhir, dan pesannya tegas: London serius ingin memperdalam kerja sama dengan Beijing. Tapi, di balik jabat tangan dan senyum diplomatik, ada bayangan peringatan dari Washington. Donald Trump sudah mengingatkan bahwa mendekat ke China itu berisiko. Namun begitu, Starmer tampaknya punya agenda ekonominya sendiri yang tak bisa ditunda.
Agenda itu pun berjalan. Kamis lalu, Starmer bertemu langsung dengan Presiden Xi Jinping dan Perdana Menteri Li Qiang. Intinya, kedua belah pihak sepakat untuk menguatkan dialog, terutama di bidang perdagangan dan investasi. Situasi geopolitik global yang serba tak pasti rupanya mendorong banyak pemimpin Barat belakangan ini mendatangi Beijing. Tak cuma Starmer, pemimpin Prancis, Kanada, dan Finlandia juga tercatat melakukan hal serupa dalam beberapa pekan terakhir sebuah tren yang menarik diamati.
“Inggris memiliki banyak hal yang bisa ditawarkan,” ujar Starmer dengan percaya diri.
Perkataan itu ia sampaikan di hadapan para pelaku usaha dalam Forum Bisnis Inggris-China, Jumat pagi. Menurutnya, pertemuan-pertemuan selama kunjungan berlangsung hangat dan telah membuahkan kemajuan nyata.
Dan kemajuan itu memang konkret. Beberapa kesepakatan penting berhasil ditandatangani. Yang paling langsung terasa mungkin kebijakan bebas visa 30 hari bagi pemegang paspor Inggris. Langkah ini diharapkan bisa mempermudah mobilitas pebisnis dan investor dari kedua negara. Starmer menyebutnya sebagai “simbol dari arah hubungan yang sedang kami bangun”.
Tak cuma itu. Ada juga kesepakatan untuk meningkatkan ekspor Inggris ke pasar China, penguatan komisi perdagangan bersama, hingga kolaborasi di sektor kesehatan. Bahkan, mereka sepakat bekerja sama menargetkan rantai pasok yang dimanfaatkan jaringan penyelundup migran. Kabar baik lainnya datang dari kantor PM Inggris: China setuju menurunkan tarif impor untuk wiski Inggris, dari 10 persen jadi hanya 5 persen. Ini tentu angin segar bagi industri minuman keras Inggris.
Di sisi lain, hubungan kedua negara sebenarnya sempat membeku. Kemerosotan terjadi sejak 2020, ketika Beijing memberlakukan undang-undang keamanan nasional di Hong Kong dan melakukan penindasan terhadap aktivis pro-demokrasi di sana. Ketegangan politik itu nyata.
Tapi realitas ekonominya berbicara lain. China tetap saja menjadi mitra dagang terbesar ketiga bagi Inggris. Pemerintah Starmer jelas punya hitungan sendiri. Mereka berharap kerja sama bisnis yang lebih erat dengan raksasa ekonomi nomor dua dunia ini bisa mendongkrak pertumbuhan ekonomi sebuah target utama Starmer.
Gambaran niat itu makin jelas dengan kehadiran sekitar 60 pemimpin bisnis dalam rombongan Starmer. Salah satunya adalah Pascal Soriot, Direktur Utama AstraZeneca. Perusahaan farmasi raksasa Inggris itu bahkan mengumumkan rencana investasi besar-besaran senilai 15 miliar dolar AS di China hingga 2030, untuk memperluas fasilitas produksi dan risetnya.
Lawatan Starmer belum berakhir. Setelah dari Beijing, ia akan melanjutkan perjalanan ke Shanghai, sebelum akhirnya membuat singgah singkat di Jepang. Perjalanan panjang ini menunjukkan satu hal: meski mendapat peringatan, Inggris memilih untuk menjalankan strategi ekonominya dengan caranya sendiri. Hasilnya? Kita lihat saja nanti.
Artikel Terkait
Laba Bersih PTBA Melonjak 104,8 Persen di Kuartal I-2026 Meski Pendapatan Stagnan
Paradise Indonesia (INPP) Cetak Laba Rp44 Miliar di Kuartal I-2026, Segmen Komersial Jadi Motor Pertumbuhan
Wall Street Beragam di Tengah Reli Bulanan, S&P 500 dan Nasdaq Catat Kenaikan Terbaik Sejak 2020
Wall Street Berakhir Campur Aduk, S&P 500 Catat Kenaikan Bulanan Terbesar Sejak 2020