Pasar modal kita diguncang berita besar Kamis lalu. Salah satu yang paling banyak dibaca adalah soal Goldman Sachs yang memangkas peringkat saham Indonesia. Tak cuma itu, respons otoritas dan anjloknya IHSG juga jadi sorotan. Ini rangkuman ceritanya.
Goldman Sachs Turunkan Peringkat RI, Ada Apa?
Bank investasi raksasa, Goldman Sachs, baru saja mengubah rekomendasinya untuk pasar saham Indonesia menjadi underweight. Langkah ini nggak datang tiba-tiba. Ini menyusul peringatan serius dari MSCI soal kelayakan investasi di sini. Kekhawatirannya? Bisa memicu arus keluar dana pasif yang gila-gilaan, sampai USD 13 miliar! UBS AG juga ikut-ikutan, menurunkan rekomendasi jadi netral.
Analis Goldman Sachs bilang, tekanan jual dari dana pasif ini kemungkinan masih akan berlanjut. Dan itu tentu bakal membebani performa pasar secara keseluruhan. Bayangkan, dalam skenario terburuk jika Indonesia malah diturunkan statusnya dari pasar berkembang ke pasar frontier, pelepasan saham oleh dana yang ikut indeks MSCI bisa mencapai USD 7,8 miliar. Angka yang fantastis.
Belum lagi ancaman dari pihak lain. Ada potensi arus keluar lain senilai USD 5,6 miliar kalau FTSE Russell ikut-ikutan meninjau ulang metodologi dan status kita. Goldman melihat, kombinasi tekanan ini, ditambah kondisi pasar yang sedang tidak menentu dan likuiditas yang mungkin menyusut, bisa memaksa investor mengatur ulang portofolio mereka.
Inti masalahnya sebenarnya sudah lama mengendap: isu free float yang rendah dan kepemilikan saham yang terlalu terkonsentrasi di beberapa perusahaan besar. IHSG pun langsung kolaps, anjlok sampai 10 persen di hari Kamis sebagai bentuk respons pasar yang panik. Tapi, nggak semua melihat ini sebagai akhir dunia.
Analis Citigroup justru punya pandangan berbeda. Mereka menilai pembekuan indeks oleh MSCI ini mungkin cuma sementara. Malah, ini bisa jadi 'peluang beli' yang bagus, terutama untuk saham perbankan berkualitas, telekomunikasi, dan emiten komoditas.
Artikel Terkait
Gedung Siap, Tapi Koperasi Merah Putih Belum Langsung Beroperasi
Burhanuddin Abdullah: Pertumbuhan 8 Persen Hanya Mimpi Tanpa Reformasi Struktural
Harga Minyak Melonjak ke Level Tertinggi, Ketegangan AS-Iran Jadi Pemicu
Microsoft Gegerkan Wall Street, Saham Teknologi Terperosok Meski Laba Melesat