Goldman Sachs Pangkas Rekomendasi, IHSG Kolaps 10%

- Jumat, 30 Januari 2026 | 05:48 WIB
Goldman Sachs Pangkas Rekomendasi, IHSG Kolaps 10%

Pasar modal kita diguncang berita besar Kamis lalu. Salah satu yang paling banyak dibaca adalah soal Goldman Sachs yang memangkas peringkat saham Indonesia. Tak cuma itu, respons otoritas dan anjloknya IHSG juga jadi sorotan. Ini rangkuman ceritanya.

Goldman Sachs Turunkan Peringkat RI, Ada Apa?

Bank investasi raksasa, Goldman Sachs, baru saja mengubah rekomendasinya untuk pasar saham Indonesia menjadi underweight. Langkah ini nggak datang tiba-tiba. Ini menyusul peringatan serius dari MSCI soal kelayakan investasi di sini. Kekhawatirannya? Bisa memicu arus keluar dana pasif yang gila-gilaan, sampai USD 13 miliar! UBS AG juga ikut-ikutan, menurunkan rekomendasi jadi netral.

Analis Goldman Sachs bilang, tekanan jual dari dana pasif ini kemungkinan masih akan berlanjut. Dan itu tentu bakal membebani performa pasar secara keseluruhan. Bayangkan, dalam skenario terburuk jika Indonesia malah diturunkan statusnya dari pasar berkembang ke pasar frontier, pelepasan saham oleh dana yang ikut indeks MSCI bisa mencapai USD 7,8 miliar. Angka yang fantastis.

Belum lagi ancaman dari pihak lain. Ada potensi arus keluar lain senilai USD 5,6 miliar kalau FTSE Russell ikut-ikutan meninjau ulang metodologi dan status kita. Goldman melihat, kombinasi tekanan ini, ditambah kondisi pasar yang sedang tidak menentu dan likuiditas yang mungkin menyusut, bisa memaksa investor mengatur ulang portofolio mereka.

Inti masalahnya sebenarnya sudah lama mengendap: isu free float yang rendah dan kepemilikan saham yang terlalu terkonsentrasi di beberapa perusahaan besar. IHSG pun langsung kolaps, anjlok sampai 10 persen di hari Kamis sebagai bentuk respons pasar yang panik. Tapi, nggak semua melihat ini sebagai akhir dunia.

Analis Citigroup justru punya pandangan berbeda. Mereka menilai pembekuan indeks oleh MSCI ini mungkin cuma sementara. Malah, ini bisa jadi 'peluang beli' yang bagus, terutama untuk saham perbankan berkualitas, telekomunikasi, dan emiten komoditas.

Respons BEI dan Purbaya Saat IHSG Rontok

Keributan ini berawal Rabu (28/1), saat IHSG ambruk 8,12 persen ke level 8.250,58. Pasar sempat 'kaget' sampai perdagangan dihentikan sementara selama setengah jam. Data RTI Business menunjukkan betapa luasnya tekanan jual: 703 saham tercatat melemah. Pemicunya jelas: pengumuman MSCI yang membekukan sejumlah aksi indeks untuk saham Indonesia.

Menanggapi hal ini, BEI lewat Corporate Secretary-nya Kautsar Primadi langsung angkat bicara.

“Kami akan terus berkoordinasi dengan OJK dan KSEI untuk merespons kekhawatiran MSCI, terutama terkait transparansi data kepemilikan saham,” jelasnya.

Kebijakan sementara MSCI ini berlaku hingga Februari 2026. Mereka membekukan kenaikan faktor tertentu dan menghentikan penambahan saham baru ke dalam indeks.

Di sisi lain, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mencoba menenangkan. Ia menilai penurunan IHSG sebagai reaksi berlebihan yang sifatnya sementara.

“Persoalan transparansi ini akan kami selesaikan sebelum batas waktu Mei,” tegas Purbaya, sambil menekankan bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap solid.

Pandangan optimis serupa datang dari kalangan analis. Perkumpulan Analis Efek Indonesia (PAEI) dan analis senior dari Mirae Asset Sekuritas melihat momen sulit ini justru sebagai momentum perbaikan. Mereka menyebut ada peluang 'beli saat turun' (buy on dip), mengingat fondasi pasar modal dan ekonomi nasional kita sebenarnya masih kuat. Jadi, di balik kepanikan, ada yang justru sedang mengincar peluang.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar