Pagi itu, IHSG langsung terperosok. Tekanan jual yang begitu kuat bahkan memaksa BEI menghentikan sementara perdagangan alias trading halt di awal sesi Kamis (29/1). Suasana tegang jelas terasa, mencerminkan kegelisahan investor yang dibayangi sentimen global dan kabar evaluasi dari lembaga indeks internasional.
Namun begitu, situasi perlahan berbalik. Pergerakan indeks mulai menunjukkan tanda-tanda perbaikan, tak lepas dari respons cepat yang diluncurkan pemerintah dan otoritas pasar. Menko Perekonomian Airlangga Hartarto melihat ini sebagai sinyal positif. Menurutnya, pasar mulai merespons langkah-langkah yang diambil.
“Alhamdulillah, wa syukurillah,”
Ucap Airlangga saat dikonfirmasi mengenai pergerakan rebound IHSG. Optimisme itu ia sampaikan dengan nada lega.
Ia menegaskan, pemulihan ini buah dari koordinasi intensif dengan OJK untuk menyikapi penilaian lembaga seperti MSCI. Pemerintah sudah membahas mekanisme lanjutan untuk menjaga kepercayaan investor dan stabilitas pasar.
“Faktor karena pemerintah merespons dan tadi dengan OJK sudah kita bahas mengenai mekanisme berikutnya,”
jelasnya.
Lantas, apakah penguatan akan berlanjut? Airlangga memilih bersikap optimistis, tapi tetap hati-hati. Ia menegaskan kondisi pasar masih dalam tahap pemulihan, belum sampai euforia.
“Mudah-mudahan (terus menguat). Belum to the moon, tenang aja,”
katanya santai.
Di sisi lain, pemerintah terus mendorong reformasi dan transparansi sebagai kunci jawaban atas evaluasi lembaga pemeringkat global. Pendekatan ini, kata Airlangga, sejalan dengan langkah OJK.
Soal wacana menaikkan free float saham jadi 15 persen, ia menilai langkah saat ini sudah cukup. Tapi ada catatan penting: peningkatan itu harus diiringi keterbukaan informasi yang jelas.
“Tahap ini cukup. Tapi dalam 15 persen juga harus transparan,”
tegasnya.
Isu saham gorengan juga jadi perhatian. Airlangga berpendapat, aturan free float yang transparan bisa membantu memitigasi praktik spekulatif semacam itu.
“Dalam langkah transparansi daripada free float siapa aja itu kan kelihatan. Jadi itu sudah memitigasi saham gorengan,”
ungkapnya.
Di akhir perdagangan, IHSG masih tertahan di zona merah dengan penurunan 1,06 persen ke level 8.232,2. Tapi ada secercah cahaya: indeks LQ45 justru naik tipis 0,06 persen ke 813,01. Ini menunjukkan ada selektivitas dari investor di tengah volatilitas yang terjadi.
Rincian perdagangan hari itu mencatat 214 saham menguat, sementara 521 lainnya melemah. Sebanyak 73 saham stagnan. Transaksi berlangsung 4,9 juta kali dengan volume perdagangan mencapai 98,2 miliar saham. Nilainya? Rp 67,55 triliun. Angka yang tak kecil, menggambarkan betapa sibuknya hari itu di bursa.
Artikel Terkait
Laba Bersih PTBA Melonjak 104,8 Persen di Kuartal I-2026 Meski Pendapatan Stagnan
Paradise Indonesia (INPP) Cetak Laba Rp44 Miliar di Kuartal I-2026, Segmen Komersial Jadi Motor Pertumbuhan
Wall Street Beragam di Tengah Reli Bulanan, S&P 500 dan Nasdaq Catat Kenaikan Terbaik Sejak 2020
Wall Street Berakhir Campur Aduk, S&P 500 Catat Kenaikan Bulanan Terbesar Sejak 2020