Siang ini, suasana di Bursa Efek Indonesia terasa berat. IHSG, barometer utama pasar modal kita, ditutup di zona merah. Angkanya anjlok 5,91 persen ke level 7.828,47. Benar-benar penurunan yang signifikan.
Padahal, gejolak sudah terasa sejak pagi. Tak lama setelah bel pembukaan berbunyi, indeks langsung terjun bebas hingga 8 persen. Situasi yang cukup mencekam itu memaksa pihak BEI mengambil langkah darurat: memberlakukan trading halt. Artinya, perdagangan dihentikan sementara untuk mencegah kepanikan yang lebih luas.
Kalau kita lihat lebih detail, pelemahan ini terjadi secara luas. Indeks LQ45, yang berisi saham-saham unggulan, ikut terimbas dengan penurunan 5,21 persen ke 770,205. Dari ratusan saham yang diperdagangkan, mayoritas tepatnya 720 emiten harganya melemah. Hanya 65 yang mampu bertahan di zona hijau, sementara 22 lainnya stagnan. Volume perdagangannya cukup tinggi, mencapai 42,9 miliar saham dengan nilai transaksi Rp 32,7 triliun dalam lebih dari 2,5 juta frekuensi. Ini menunjukkan betapa ramainya aksi jual yang terjadi.
Tekanan ternyata tidak hanya datang dari dalam negeri. Rupiah pun ikut tertekan. Menurut pantauan Bloomberg, nilai tukarnya melemah 76 poin atau 0,45 persen ke Rp 16.798 per dolar AS di waktu yang sama. Kombinasi pelemahan saham dan mata uang ini jelas membawa sentimen negatif tersendiri.
Artikel Terkait
Pandu Sjahrir: Regulator Harus Bertindak, IHSG Terancam Jatuh ke Kasta Frontier
OJK dan BEI Bergerak Cepat Jawab Tuntutan Transparansi MSCI
OJK Naikkan Batas Minimal Free Float Jadi 15%, Respons Desakan Global
Mari Elka Pangestu Desak Pembentukan Badan Khusus untuk Koordinasi Investasi Hijau