Pertama, fase rumor. Beberapa bulan sebelum pengumuman resmi, prediksi dari analis sudah beredar. Di fase ini, harga saham udah mulai merangkak naik karena banyak yang mulai mengakumulasi.
Kedua, fase pengumuman. Saat MSCI secara resmi mengumumkan hasil "rebalancing"-nya, biasanya tiap kuartal, lonjakan permintaannya bisa signifikan. Dana asing pun mengalir deras, terutama ke saham yang likuid dan kapitalisasinya gede.
Tapi, efeknya bisa berbalik 180 derajat. Coba lihat yang terjadi Rabu, 28 Januari 2026 lalu. IHSG dibuka merah menyala setelah MSCI mengumumkan pembekuan sementara untuk saham-saham Indonesia. Penyebabnya? Kekhawatiran soal transparansi data kepemilikan saham dan "investability" bursa kita.
Keputusan ini muncul setelah proses konsultasi panjang soal penilaian "free float". Isu ini sebenarnya sudah jadi perbincangan hangat beberapa bulan sebelumnya. Dampaknya langsung terasa. Pasar sempat dihentikan sementara. Hingga sore hari, IHSG tercatat anjlok hampir 8 persen. Saham-saham besar pun ambruk diterpa aksi jual massal.
Dalam situasi seperti ini, manajer investasi yang pakai acuan MSCI biasanya akan mengurangi porsi atau malah melepas kepemilikan saham mereka. Risiko terlalu tinggi.
Jadi, begitulah kira-kira peran MSCI. Ia bisa jadi angin surga yang mendorong harga saham melambung, tapi juga bisa jadi biang kerok yang memicu kepanikan di pasar. Semuanya tergantung pada keputusan dan penilaian mereka.
Artikel Terkait
Centrepark Raih Top Brand Award 2026 untuk Kategori Parking Management
Pertamina Geothermal Energy (PGEO) Bidik Bisnis Sewa Alat Tambang
Jalan Tol Bali Mandara Ditutup 32 Jam untuk Nyepi 2026
Elnusa Siapkan Empat Strategi Dukung Target Satu Juta Barel Minyak per Hari