Anda mungkin sering mendengar istilah MSCI disebut-sebut, terutama saat pasar saham bergolak. Tapi sebenarnya, apa sih MSCI itu? Singkatnya, ini adalah perusahaan jasa investasi bernama Morgan Stanley Capital International. Lembaga inilah yang menyusun berbagai indeks, mulai dari saham global hingga real estat, plus menyediakan alat analisis buat para investor.
Indeks yang mereka rilis beragam banget. Ada yang berdasarkan sektor, wilayah, negara, bahkan faktor-faktor tertentu. Nah, dari sekian banyak saham di suatu bursa, indeks MSCI ini jadi semacam "panduan belanja" bagi investor asing. Mereka pakai acuan ini untuk memilih saham mana yang paling potensial untuk dana mereka.
Tentu saja, masuk ke dalam daftar indeks MSCI bukan perkara mudah. Sahamnya harus memenuhi sejumlah kriteria ketat. Misalnya, pergerakan harganya harus wajar dan punya "free float" atau saham beredar yang cukup besar. Jadi, nggak asal comot.
Menurut sejumlah saksi di pasar, status sebagai konstituen indeks ini juga nggak permanen. MSCI rutin melakukan "rebalancing" setiap tahunnya. Mereka mengocok ulang peserta indeks untuk menjaga keseimbangan. Saham yang tadinya masuk, bisa saja tergusur di periode berikutnya.
Lalu, apa gunanya indeks-indeks ini? Bagi manajer investasi, ini jadi acuan penting dalam menyusun portofolio. Buat investor institusi maupun individu, indeks MSCI membantu menakar risiko dan peluang di pasar global. Intinya, ini adalah tolok ukur kinerja pasar.
Di Indonesia, kita kenal misalnya MSCI Indonesia atau MSCI Global Standard. Pengaruhnya besar, lho. Soalnya, pasar modal kita nggak cuma diisi investor ritel seperti kita-kita ini. Ada juga "big money" dan investor institusi luar negeri yang dananya sangat besar. Mereka sering pakai indeks MSCI sebagai peta untuk menanamkan modal.
Makanya, wajar kalau saham yang diprediksi bakal masuk indeks MSCI biasanya langsung melonjak harganya. Semua orang berebut masuk duluan, mengharapkan aliran dana asing yang deras. Menurut analis Maybank Sekuritas, pergerakan ini biasanya terjadi dalam dua fase.
Artikel Terkait
Tambang Emas Martabe Beralih ke BUMN Baru di Bawah Danantara
Merger Tiga Anak Usaha Pertamina Mundur ke Februari 2026
Di Balik IHSG Anjlok 8%, BEI Tegaskan Minat IPO Tak Surut
Indonesia Dapat Deadline 2026 dari MSCI, Ancaman Turun Peringkat Mengintai