Bursa saham Indonesia kembali ditutup dengan catatan merah di sesi pertama hari ini, Selasa (27/1). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 0,60 persen, berhenti di level 8.921,66. Pergerakannya memang tak terlalu tajam, tapi cukup untuk membuat para investor waswas.
Kalau dilihat lebih detail, pelemahan justru lebih terasa di saham-saham unggulan. Indeks LQ45, misalnya, terpangkas lebih dalam dengan penurunan mencapai 1,01 persen ke posisi 873,51. Pasar terasa berat. Dari total saham yang diperdagangkan, yang mampu naik cuma 232. Sementara itu, 441 lainnya terperosok, dan 130 sisanya diam di tempat.
Aktivitas perdagangan sendiri cukup sibuk. Transaksi terjadi lebih dari 2 juta kali dengan volume saham yang berpindah tangan mencapai 33,23 miliar. Nilainya? Gak main-main, tembus Rp 15,1 triliun. Angka yang besar, tapi rupanya belum cukup untuk mendongkrak indeks ke zona hijau.
Di sisi lain, kondisi rupiah juga tak memberi angin segar. Mengutip pantauan Bloomberg, siang tadi mata uang kita melemah tipis 0,15 persen. Nilai tukarnya menyentuh Rp 16.806,5 per dolar AS. Pelemahan 24,5 poin ini seolah melengkapi suasana muram di lantai bursa.
Lalu, bagaimana dengan bursa Asia lainnya? Ternyata, ceritanya beda. Mayoritas justru menguat.
Artikel Terkait
Thomas Djiwandono Resmi Jadi Deputi Gubernur BI, Tegaskan Komitmen Jaga Independensi Bank Sentral
IHSG Tergelincir ke 8.921, Saham Blue Chip Terus Tertekan
BEI Ungkap Target: Danantara Siap Masuk Pasar Modal Tahun Ini
Gelombang Jual Saham Konglomerasi Menyapu Bursa, MSCI Jadi Biang Kerok