Porter Stasiun Senen Raup Rp500 Ribu per Hari Saat Puncak Arus Mudik

- Minggu, 15 Maret 2026 | 07:15 WIB
Porter Stasiun Senen Raup Rp500 Ribu per Hari Saat Puncak Arus Mudik

Stasiun Pasar Senen mulai ramai. Suasana itu sudah terasa beberapa hari terakhir, menandai gelombang awal para pemudik yang bersiap pulang kampung. Keriuhan ini tentu saja jadi berkah tersendiri bagi para porter yang bekerja di sana. Bagi mereka, momen menjelang Lebaran adalah puncak kesibukan saat penghasilan bisa melonjak drastis.

Asman, seorang porter berusia 44 tahun, mengiyakan. “Kalau lagi ramai banget seperti jelang Lebaran, sehari bisa sampai Rp500.000,” ujarnya saat ditemui Kamis lalu.

Menurutnya, lonjakan itu wajar. Jumlah penumpang yang membludak otomatis meningkatkan permintaan jasa mereka. Sekarang, caranya pun beragam. Banyak penumpang yang sudah memesan bantuan porter lewat aplikasi e-porter yang tersedia di stasiun. Tarifnya pun sudah ditetapkan, sekitar Rp38.000 untuk sekali antar barang dari pintu masuk ke ruang tunggu atau peron.

“Kalau lewat aplikasi sudah ada tarifnya,” kata Asman.

Namun begitu, tak sedikit juga yang memesan langsung di lokasi. Nah, dari sini kadang dapat kejutan. Beberapa penumpang, terutama yang membawa barang banyak atau merasa sangat terbantu, kerap memberi bayaran lebih dari tarif standar. “Kalau pesan langsung kadang ada yang ngasih lebih,” tutur Asman sambil tersenyum.

Dalam hari-hari biasa, Asman mungkin hanya melayani tiga sampai lima penumpang. Tapi di musim seperti sekarang, kliennya bisa membengkak. “Kalau lagi ramai bisa sampai belasan orang,” ujarnya. Bayangkan saja, dengan tarif rata-rata Rp38.000 hingga Rp40.000 per layanan, kalkulasi penghasilan hariannya memang bisa mencapai angka ratusan ribu.

Derasnya Arus dan Kardus Berat

Di sisi lain, suasana kerja yang lebih sibuk langsung terasa di lapangan. Slamet (38), porter lain di stasiun yang sama, terlihat sibuk memanggul kardus berisi air mineral sambil menarik koper seorang penumpang. Ia sudah hampir lima tahun berkecimpung di pekerjaan ini.

“Biasanya ada jadwal giliran. Kami kerja sesuai pembagian dari koordinator,” jelas Slamet tentang sistem kerja mereka. Sistem gilir itu memastikan selalu ada porter yang siap membantu sepanjang hari.

Tapi di puncak musim mudik, semua harus bergerak lebih cepat. Barang-barang yang dibawa penumpang juga seringkali lebih banyak dan berat. “Kadang ada yang bawa kardus besar sekali. Beratnya bisa belasan kilo,” keluhnya. Meski lelah, ada nuansa khusus yang dirasakan Slamet dan kawan-kawannya. Keramaian stasiun yang dipenuhi orang-orang yang ingin pulang kampung menghadirkan energi tersendiri sebuah tanda bahwa hari raya sebentar lagi tiba.

Jadi, di balik hiruk-pikuk persiapan mudik, ada cerita lain yang berjalan. Cerita tentang kerja keras dan harapan sederhana para porter yang justru menemukan momentumnya di tengah keramaian itu.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar