“Yang kita saksikan sepertinya adalah ekspansi ekonomi yang didukung pertumbuhan laba. Tapi ya, optimisme itu masih dibalut kehati-hatian. Musim laporan keuangan ini jadi penentu mood pasar ke depan,” imbuh Zaccarelli.
Nah, soal The Fed, konsensus pasar memprediksi mereka akan mempertahankan suku bunga acuan pada level saat ini. Namun, pernyataan dari Ketua Jerome Powell nanti yang bakal jadi sorotan utama. Para pelaku pasar akan menyaring setiap katanya untuk mencari petunjuk arah kebijakan moneter ke depan.
Analis Barclays punya catatan menarik. Mereka berpendapat bahwa sikap hawkish The Fed dan data ekonomi AS yang kuat memang bisa menjadi penyangga bagi dolar. Tapi ada risiko lain: intervensi di pasar yen Jepang justru berpotensi mengacaukan aliran dana dolar yang sudah terlihat lesu belakangan ini.
Di pasar obligasi, imbal hasil surat utang pemerintah AS untuk tenor 10 tahun sedikit melemah, turun 2,4 basis poin menjadi 4,215%. Meski begitu, lelang obligasi AS jangka pendek dua tahun senilai 69 miliar dolar dinilai berjalan kuat, menunjukkan minat yang tetap terjaga.
Artikel Terkait
Persiapan Mudik Lebaran 2026: Ban Tepat Jadi Kunci Hemat Daya Mobil Listrik
MR.D.I.Y Indonesia (MDIY) Catat Laba Bersih Rp1,1 Triliun dan Usul Dividen 40%
Rupiah Melemah Tipis ke Rp16.893, Beban Bunga Utang Membengkak Capai Rp99,8 Triliun
IHSG Turun 0,37% ke 7.362,12 Didominasi Tekanan Jual