Lalu, dari mana sumber pembagian ini? Rupanya, keputusan ini berdasar pada kinerja keuangan yang cukup solid. Hingga akhir September 2025, laba bersih Pinago Utama tercatat mencapai Rp212,7 miliar. Angka yang cukup gemuk. Belum lagi, saldo laba ditahannya masih besar, yakni Rp1,05 triliun, dengan ekuitas menyentuh Rp1,16 triliun. Posisi yang nyaman untuk membagi hasil.
Prosesnya sendiri berjalan cepat. Rapat Direksi pada 5 Januari lalu yang memutuskan usulan ini. Nah, Dewan Komisaris pun langsung menyetujuinya di hari yang sama. Tidak ada drama berarti.
Kalau kita bandingkan dengan pembagian sebelumnya, ada selisih. Di Oktober 2025 lalu, dividen yang dibagikan lebih besar, yaitu Rp130 per saham. Dengan pembagian hari ini, totalnya jadi Rp210 per saham yang dikembalikan ke pemegang saham sepanjang tahun buku 2025. Bagi mereka, tentu ini berita yang menyenangkan.
Pinago Utama, perusahaan yang bergerak di bisnis karet dan sawit ini, menunjukkan komitmennya untuk berbagi keuntungan. Di tengah dinamika pasar yang fluktuatif, langkah seperti ini bisa menjadi penanda kepercayaan direksi terhadap kondisi perusahaan ke depannya.
Artikel Terkait
Timah Anjlok Lebih dari 4 Persen, Pasar Komoditas Dihantui Sentuhan Merah
Industri Baja Nasional Pacu Ekonomi, Produksi Melonjak Hampir 100%
Harga Minyak Melemah Tipis, Pasar Waspada Badai dan Ketegangan AS-Iran
Zijin Gempur Pasar Emas Afrika dengan Akuisisi Rp 67 Triliun