Ia menegaskan, semua strategi ini tetap menghormati independensi BI. Sinergi dengan pemerintah dan otoritas lain, kata dia, justru perlu diperkuat tanpa mengurangi kewenangan bank sentral.
"Artinya sinergi dengan stakeholder lain, sinergi dengan fiskal, sinergi dengan OJK dan lembaga keuangan lainnya itu tidak mengurangi independensi bank Indonesia," tegas Thomas.
Menurutnya, kolaborasi fiskal dan moneter, terutama di level likuiditas dan suku bunga, sangat krusial untuk mendorong pertumbuhan yang lebih tinggi dan berkelanjutan, menuju Indonesia Emas 2045.
Siapa Thomas Djiwandono?
Lahir di Jakarta, 7 Mei 1972, Tommy adalah putra sulung Soedradjad Djiwandono, mantan Gubernur BI. Dari garis ibu, Biantiningsih Miderawati, ia adalah keponakan dari Presiden Prabowo Subianto. Ibunya adalah kakak kandung Prabowo.
Riwayat pendidikannya global. Sarjana sejarah diraih dari Haverford College, AS, lalu gelar magister di bidang hubungan internasional dan ekonomi dari Johns Hopkins University.
Kariernya berawal dari dunia jurnalistik. Dia pernah magang di Majalah Tempo pada 1993, lalu menjadi wartawan Indonesia Business Weekly. Belakangan, ia beralih ke finansial sebagai analis di Hong Kong.
Tommy juga pernah masuk dunia korporasi sebagai Deputy CEO Arsari Group. Di politik, ia pernah nyaleg di Kalimantan Barat dan aktif mendampingi Prabowo Subianto, termasuk dalam Pilpres 2014. Ia pernah menjabat Bendahara Umum Partai Gerindra.
Pada Juli 2024, ia diangkat sebagai Wakil Menteri Keuangan di Kabinet Indonesia Maju, dan tetap menjabat di posisi yang sama dalam Kabinet Merah Putih sejak Oktober 2025. Tommy telah berkeluarga dan dikaruniai tiga anak.
Artikel Terkait
PPGL Lepas Kepemilikan di JAYA Senilai Rp44,6 Miliar ke Tangan Pengendali
Kenaikan Tarif Commuter Line Masih Digodok, KCI Tunggu Keputusan Pemerintah
JAST dan MPIX Melonjak 34%, Saham Tekstil ESTI Tersungkur Meski Sempat Diangkat Sentimen BUMN
KRL Bakar Semangat: Rute Cikampek dan Merak Ditargetkan Beroperasi Sebelum 2029