“Dengan pengalaman dan rekam jejak proyek yang kami miliki, kami optimistis kolaborasi ini dapat menciptakan nilai tambah dan mendorong pertumbuhan ASLI secara berkelanjutan,” kata Peter.
Rekam jejak itu memang cukup panjang. Dalam beberapa tahun terakhir, WKM telah menyelesaikan berbagai proyek strategis. Mulai dari pembangunan workshop di Kalimantan Selatan, barak untuk TNI di perbatasan, hingga revitalisasi fasilitas di bandara. Mereka juga membangun jembatan di Mantewe, gedung perkantoran di Kotabaru, dan ruang VVIP di sebuah rumah sakit daerah.
Dari sisi korporasi, transaksi ini cukup besar. WKM akan membeli sekitar 4,345 miliar lembar saham ASLI, setara dengan 69,52% dari modal perusahaan. Transaksi perdana sudah berjalan pada 19 Januari 2026, melalui pasar negosiasi untuk 3,92 miliar lembar saham atau 62,72% yang sebelumnya dipegang oleh Sudjatmiko.
Dengan realisasi itu, WKM secara efektif telah menjadi pengendali baru. Selanjutnya, mereka wajib melaksanakan Penawaran Tender Wajib (MTO) atas sisa saham publik yang beredar, sesuai aturan yang berlaku.
Lalu, siapa di balik WKM? Pemilik manfaat akhirnya adalah Hariono, yang dikenal memiliki portofolio bisnis dalam jaringan usaha Haji Isam, termasuk PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR). Menariknya, beberapa proyek WKM sebelumnya memang memiliki keterkaitan historis dengan jaringan bisnis tersebut.
Dengan dukungan dari WKM, optimisme ASLI tampak menguat. Mereka yakin bisa mempercepat transformasi bisnis dan memperkuat posisi di pasar konstruksi nasional. Tentu saja, semua ini akan dijalankan dengan prinsip kehati-hatian, tata kelola yang baik, dan tentu saja, kepatuhan pada seluruh regulasi yang berlaku.
Artikel Terkait
TRUE Tunda Private Placement, Tawarannya Dinilai Belum Wajar
IHSG Menguat Tipis di Tengah Pelemahan Rupiah dan Bursa Asia
Ultracorp Pacu Akselerasi Bisnis dengan Ultra Voucher di Tahun Krusial 2026
Indonet Gelontorkan Rp283 Miliar untuk Pacu Ekspansi Data Center