Buku Kontroversial Soal Gibran Laris Manis di Tengah CFD Jakarta

- Minggu, 25 Januari 2026 | 16:40 WIB
Buku Kontroversial Soal Gibran Laris Manis di Tengah CFD Jakarta

Suasana Car Free Day di Jakarta pagi itu cukup ramai. Di tengah kerumunan pejalan kaki dan pesepeda, sebuah lapak buku sederhana justru menarik perhatian. Roy Suryo dan Rismon Hasiholan Sianipar terlihat sibuk melayani pembeli. Buku yang mereka jual? Judulnya cukup provokatif: GIBRAN'S END GAME: WAPRES TAK LULUS SMA.

Menurut sejumlah saksi, antusiasme pembeli terbilang tinggi. Buku-buku itu laris diborong, Minggu (25/1/2026) itu. Situasi ini tentu saja bisa menambah sakit kepala bagi Jokowi. Bagaimana tidak? Buku yang dijual bebas di ruang publik itu secara terbuka mengangkat isu sensitif tentang Wakil Presiden.

Nah, buku kontroversial ini sendiri merupakan hasil penelitian. Penulisnya adalah Dr. Rismon Hasiholan Sianipar, seorang ahli digital forensik. Ia tak main-main dalam menyusunnya.

Peluncuran bukunya pun punya timing yang menarik. Rismon sengaja meluncurkannya bersamaan dengan gerakan bertajuk "Resolusi Lengserkan Wapres Gibran di Tahun 2026". Jadi, ini bukan sekadar peluncuran biasa. Lebih seperti sebuah pernyataan politik.

Beberapa video yang beredar dari lokasi CFD memperlihatkan kesibukan di lapak tersebut. Roy Suryo tampak aktif menjelaskan isi buku kepada calon pembeli.

Sementara di video lain, antrean singkat terlihat di depan meja penjualan. Suasana tampak hidup, penuh dengan obrolan dan transaksi yang berlangsung cepat.

Kejadian di CFD hari Minggu itu jelas meninggalkan kesan. Di satu sisi, ia menunjukkan minat publik pada isu politik yang sedang panas. Di sisi lain, aksi jualan buku langsung di jantung ibu kota seperti memberi dimensi baru pada dinamika percakapan politik nasional. Semuanya terjadi di ruang terbuka, di depan mata siapa saja yang kebetulan lewat.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar