Di tengah ketidakpastian ekonomi global, Indonesia justru mendapatkan sorotan positif. Presiden Prabowo Subianto, dalam pidatonya di Davos, menyebut negeri ini sebagai "titik terang". Istilah itu bukan datang dari dirinya sendiri, melainkan ia kutip langsung dari laporan Dana Moneter Internasional (IMF) yang terbit November 2025 lalu.
“IMF baru-baru ini menggambarkan Indonesia sebagai, saya kutip, ‘titik terang global’ dengan pertumbuhan ekonomi yang kuat di tengah situasi eksternal yang menantang,”
ujar Prabowo di hadapan para pemimpin dunia dalam pertemuan tahunan World Economy Forum (WEF) 2026, Kamis (22/1).
Menurutnya, pujian semacam itu punya dasar yang kuat. Lembaga-lembaga internasional melihat sendiri ketangguhan ekonomi Indonesia yang bertahan di tengah gejolak. Buktinya? Pertumbuhan ekonomi kita bertengger di kisaran 5 persen untuk tahun 2025, dan bahkan diproyeksikan naik tipis menjadi 5,1 persen di tahun berikutnya. Angka yang cukup solid di tengah kondisi yang serba tak menentu.
Di sisi lain, capaian lain juga patut dicatat. Inflasi berhasil ditekan hingga di bawah 2 persen. Sementara defisit APBN terhadap PDB tetap terjaga di batas aman, yaitu kurang dari 3 persen. Kombinasi indikator makro ini yang rupanya membuat dunia internasional memberi apresiasi.
“Mereka melakukannya karena bukti. Mereka mengakui bahwa ekonomi Indonesia tangguh. Kebijakan kami telah dan akan selalu terkalibrasi dengan baik,”
Artikel Terkait
ELPI Bagikan Dividen Rp126 Miliar untuk Tahun Buku 2025
DSSA Setujui Stock Split 1:25, Harga Saham Bakal Turun ke Rp3.750
DSSA Lakukan Stock Split 1:25 untuk Perluas Basis Investor
DSSA Lakukan Stock Split 1:25, Saham Targetkan Lebih Terjangkau Investor Retail