Pemerintah Indonesia sudah mulai bersiap. Menghadapi haji 2026 yang masih dua tahun lagi, Kementerian Haji dan Umrah justru telah merancang berbagai skenario matang. Ini bukan tanpa alasan. Situasi di Timur Tengah, terutama eskalasi ketegangan militer antara AS dan Israel dengan Iran, memaksa mereka untuk berpikir jauh ke depan. Meski jadwal pemberangkatan masih pada 22 April 2026, jaminan keamanan bagi jemaah menjadi prioritas mutlak yang terus dipantau.
Dalam rapat bersama Komisi VIII DPR RI di Senayan, Menteri Haji dan Umrah Muhammad Irfan Yusuf yang akrab disapa Gus Irfan membeberkan tiga strategi utama. Intinya sih, semua kemungkinan sudah dipetakan.
Pertama, pemberangkatan tetap berjalan. Tapi dengan catatan: ada mitigasi risiko tinggi. Salah satu opsi yang sedang dipertimbangkan adalah mengalihkan rute penerbangan. Misalnya, memakai jalur selatan lewat Samudra India, untuk menghindari zona konflik di wilayah udara tertentu. Jadi, pesawat bisa mengambil jalan memutar yang lebih aman.
Di sisi lain, ada juga skenario yang lebih berat: membatalkan keberangkatan. Opsi ini akan diambil jika pemerintah Indonesia menilai risikonya terlalu besar bagi jemaah, sekalipun Arab Saudi tetap membuka pintu untuk ibadah haji. Pertimbangannya tentu mendalam, menyangkut keselamatan selama perjalanan dan di lokasi.
Artikel Terkait
Anggaran 2026 Bergerak Cepat, Belanja Negara Tembus Rp346,1 Triliun di Dua Bulan Pertama
Kapolri Tegaskan Sinergi TNI-Polri Kunci Jaga Stabilitas NKRI
Polres Bogor Gelar Gerakan Pangan Murah di Stadion Pakansari Sambut Lebaran
Prabowo Terkejut, Pertamina Punya 200 Anak Cucu Perusahaan