Setelah diterjang banjir bandang, dua jembatan penting di Aceh akhirnya bisa dilalui lagi. Kabar baik ini langsung dirasakan masyarakat. Arus logistik yang sempat tersendat, kini mulai mengalir lancar. Mobilitas warga di sejumlah wilayah pun perlahan kembali normal.
Yang pertama adalah Jembatan Bailey Krueng Tingkeum di Bireuen. Jembatan ini bagian dari jalur nasional Banda Aceh-Medan, dan sempat putus total akhir November lalu. Nah, butuh waktu 18 hari untuk membangun jembatan daruratnya. Hasilnya? Sebuah struktur sepanjang lebih dari 60 meter yang cukup kuat, bisa menahan beban hingga 30 ton. Artinya, dari sepeda motor sampai truk pengangkut barang, semua bisa lewat.
Proyek pemulihan ini dikerjakan bareng-bareng. Kementerian PU, PT Adhi Karya, TNI AD, dan kontraktor lokal bahu-membahu. Kerja sama ini penting banget. Soalnya, jembatan ini jadi nadi utama untuk mendistribusikan barang-barang kebutuhan pokok, bukan cuma untuk Bireuen, tapi juga kabupaten di sekitarnya.
Moeharmein Zein Chaniago, Dirut ADHI, menekankan betapa krusialnya akses infrastruktur ini.
"Ini pondasi pemulihan. Kalau jalan dan jembatan sudah berfungsi, distribusi bantuan, ekonomi, dan layanan publik bisa jalan berbarengan," ujarnya.
Dalam keterangan tertulisnya Kamis lalu, Zein menambahkan, percepatan perbaikan ini adalah bentuk tanggung jawab perusahaan atas penugasan dari negara.
Selain di Bireuen, perhatian juga tertuju ke Pidie Jaya. Di sana, Jembatan Krueng Meureudu yang menghubungkan lintas timur Aceh, sudah selesai diperbaiki sejak pertengahan Desember. Konektivitas antarwilayah yang sempat lumpuh, akhirnya pulih.
Upaya pemulihan sebenarnya lebih luas dari sekadar membangun jembatan. Sejak akhir November, alat-alat berat seperti excavator dan dump truck sudah dikerahkan ke titik-titik kritis. Wilayah seperti Aceh Tamiang, ruas Blangkejeren-Kutacane, Bireuen-Takengon, hingga Pidie jadi sasaran. Tujuannya jelas: membuka jalan yang tertutup, membersihkan sisa longsoran, dan menyiapkan infrastruktur darurat secepat mungkin.
Pemerintah sendiri sudah bilang, perbaikan infrastruktur pascabencana adalah prioritas utama. Mereka tak ingin ada wilayah yang terisolasi, putus dari akses bantuan dan logistik. Dengan dibukanya kembali jalan dan jembatan, harapannya jelas. Distribusi bantuan harus terus jalan, roda ekonomi harus berputar lagi, dan layanan publik bisa sampai ke semua orang. Itulah targetnya: pemulihan yang berkelanjutan untuk Aceh.
Artikel Terkait
Geoprima Solusi Akuisisi Aset Rp78,5 Miliar, Bertransformasi Jadi Pemain Industri Komponen Mekanikal
Penjualan Mark Dynamics Tembus Rp251 Miliar di Kuartal I-2026, Laba Bersih Naik 19 Persen
IHSG Ditutup Menguat 0,65 Persen ke 7.175, Sektor Bahan Baku Paling Moncer
Harga Amonia Melonjak Akibat Ketegangan Timur Tengah, Saham ESSA Melesat 57 Persen Sepanjang 2026