Dua saham yang sempat dijagokan masuk ke indeks global MSCI dalam rebalancing Februari mendatang justru kehilangan tenaga. Pergerakannya belakangan ini cukup lesu, dan analis punya beberapa catatan penting soal hal itu.
Kita bicara soal Bumi Resources (BUMI) dari kubu Bakrie-Salim dan Petrosea (PTRO) yang berada di bawah bendera Grup Barito milik Prajogo Pangestu. Keduanya sempat disebut-sebut sebagai kandidat kuat.
Tapi lihatlah fakta di pasar. Saham BUMI stagnan di Rp386 per unit pada Kamis (22/1) siang, setelah sehari sebelumnya anjlok 6,76%. Secara mingguan, pelemahannya mencapai hampir 6%. Nasib serupa menimpa PTRO. Sahamnya tergelincir 6,67% ke level Rp11.550, melanjutkan tren merah selama empat hari berturut-turut. Dalam sepekan, PTRO sudah terpangkas lebih dari 10%.
Menurut pengamat pasar modal Michael Yeoh, tekanan yang terjadi ini nggak cuma soal teknikal belaka. Ada sentimen lain yang mengganggu.
“Perlu ditekankan bahwa pada 30 Januari 2026 akan ada pengumuman terhadap metode perhitungan free float (FF) oleh MSCI yang akan diimplementasikan secara bertahap hingga Mei 2026,”
Begitu penjelasan Michael, Kamis lalu. Faktor ini, katanya, bisa jadi angin tambahan yang mempengaruhi dinamika harga.
Namun begitu, dia juga melihat sisi lain. Level teknikal kedua saham ini dinilainya masih cukup solid.
“PTRO memiliki support demand yang kuat di level Rp11 ribu. BUMI berada di kisaran 390,”
Ujar Michael.
Di sisi lain, analis dari BRI Danareksa Sekuritas masih melihat tren positif untuk PTRO, meski tekanan jangka pendek mulai terasa. "Pergerakan saham PTRO masih dalam trend yang bullish," tulis mereka dalam risetnya.
Tapi mereka juga jujur. Dalam sepekan terakhir, tekanan jual mulai membayangi. Kondisi ini membuka peluang saham untuk menguji level support terdekatnya.
“Potensi selanjutnya akan menuju dan menguji level support terdekatnya pada 11.000 - 11.325,” imbuh analis BRI Danareksa.
Sebelumnya, Indo Premier memang menempatkan BUMI sebagai kandidat dengan probabilitas tertinggi masuk MSCI Standard Cap, disusul PTRO. Saat ini keduanya sudah jadi bagian dari indeks MSCI IMI dan Small Cap. Trimegah Sekuritas juga punya pandangan serupa, menjagokan kedua saham itu. Sementara CLSA Sekuritas punya prediksi sedikit berbeda, mereka menyebut BUMI dan MD Entertainment (FILM) yang akan masuk.
Lalu, apa sebenarnya yang bikin pasar resah? Semuanya berawal dari rencana MSCI mengutak-atik cara hitung "free float".
Oktober lalu, MSCI mengumumkan mereka sedang menjajaki penggunaan data laporan bulanan dari KSEI sebagai referensi tambahan. Rencana ini tentu saja mempertimbangkan masukan pelaku pasar. Tapi pengumuman itu sendiri sempat bikin heboh. Saham-saham konglomerasi besar, terutama milik Prajogo Pangestu, langsung terpuruk dan jadi penekan utama IHSG kala itu.
Inti kekhawatirannya sederhana: perubahan metodologi ini berpotensi menurunkan bobot saham-saham kapitalisasi besar dalam indeks MSCI. Selama ini, BEI hanya mewajibkan laporan untuk pemegang saham di atas 5%. Data KSEI jauh lebih detail, mencakup kepemilikan di bawah 5% plus klasifikasi pemegangnya. Jadi, gambarnya lebih lengkap.
Nah, dalam proposalnya, MSCI berencana memilih nilai "free float" terendah antara hasil hitungan metodologi lama mereka dan estimasi pakai data KSEI. Dalam skema berbasis KSEI, saham "script" plus kepemilikan oleh korporasi dan kategori ‘lainnya’ akan dianggap sebagai "non-free float". Ada juga opsi alternatifnya.
MSCI sudah menutup masa konsultasi publik akhir Desember lalu. Hasil akhirnya akan diumumkan sebelum 30 Januari 2026. Kalau disetujui, perubahan baru akan berlaku mulai Mei mendatang.
Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan investor.
Artikel Terkait
Hutama Karya Raup Laba Rp464 Miliar di Kuartal I-2026, Tembus 172 Persen Target
PT Sinar Terang Mandiri Tbk Bagikan Dividen Rp60,23 Miliar, Setara Rp14,75 per Saham
Indonet Tunjuk Donauly Elena Situmorang sebagai Direktur Utama, Gantikan Andrew Rigoli
IHSG Anjlok 6,6% dalam Sepekan, Saham Logistik Baru IPO Justru Melonjak 94%