Pembukaan perdagangan saham di tahun 2026, Jumat (2/1) ini, diwarnai optimisme. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi bakal menguat, dengan kisaran level yang ditargetkan antara 8.680 hingga 8.725.
Sentimen ini muncul setelah IHSG ditutup tipis di zona hijau pada sesi terakhir tahun 2025, Selasa (30/12) lalu. Kala itu, indeks naik 2,682 poin ke posisi 8.646,938.
Analis dari Phintraco Sekuritas melihat ada sinyal teknis yang mendukung penguatan itu. Menurut mereka, indikator Stochastic RSI IHSG menunjukkan reversal berlanjut menuju area pivot. Tak cuma itu, tekanan jual terlihat mulai kehabisan tenaga, ditandai dengan penyempitan histogram negatif MACD yang berlanjut. Artinya, potensi pembalikan tren ke atas semakin terbuka.
“Sehingga diperkirakan penguatan IHSG berpotensi berlanjut dan menguji level 8.680-8.725,”
tulis analis Phintraco dalam keterangan resminya di hari yang sama.
Namun begitu, pergerakan pasar di awal tahun ini tentu tak lepas dari data ekonomi. Investor akan mencermati sejumlah rilis data domestik hari ini. Indeks S&P Global Manufacturing PMI Desember diproyeksi sedikit membaik. Neraca perdagangan November 2025 juga diprediksi surplus lebih besar, dan inflasi Desember diperkirakan melambat.
“Neraca perdagangan bulan November 2025 diprediksi membukukan surplus sebesar US$2.7 miliar dari surplus USD 2.4 miliar di Oktober 2025. Data inflasi bulan Desember 2025 diestimasikan melambat menjadi 2.5% YoY dari 2.72% YoY di November 2025,”
lanjut analis tersebut. Dari kacamata mereka, saham-saham seperti BBCA, PANI, BBNI, JSMR, dan ASII layak jadi pertimbangan.
Di sisi lain, Mirae Asset Sekuritas punya proyeksi yang sedikit lebih konservatif. Mereka memprediksi IHSG akan bergerak di kisaran 8.600-8.666 dengan sentimen menghijau.
M. Nafan Aji Gusta, Senior Market Chartist Mirae Asset, menjelaskan bahwa secara teknikal, IHSG masih berada dalam fase konsolidasi. Sinyal dari RSI masih negatif dan volume cenderung turun. Meski demikian, ada secercah harapan dari sinyal positif yang mulai ditunjukkan oleh Stochastics K_D.
“Dengan demikian, Januari Effect pada awal tahun ini tentunya akan sangat bergantung pada dinamika tersebut,”
ungkap Nafan. Ia menambahkan, fokus pasar masih tertuju pada banyak hal: dari kebijakan tarif Trump, prospek suku bunga The Fed dan BI, data PMI manufaktur, hingga perkembangan geopolitik dan teknologi yang selalu berpengaruh pada sentimen.
Rekomendasi dari Mirae Asset untuk hari ini jatuh pada saham-saham TOTL, UNVR, dan WIFI.
Disclaimer: Keputusan investasi sepenuhnya didasarkan pada pertimbangan dan keputusan pembaca. Berita ini bukan merupakan ajakan untuk membeli, menahan, atau menjual suatu produk investasi tertentu.
Artikel Terkait
Mentan Pastikan Stok Pangan Sumatera Aman Tiga Bulan Pascabencana
Saham Konglomerasi dengan PBV Rendah Masih Bisa Ditemukan, Ini Daftarnya
Pengendali Baru NATO Luncurkan Tender Wajib dengan Harga Rp183, Jauh di Bawah Pasar
Saham PART Cetak Auto Reject, Melonjak 34% Jadi Top Gainer