Gangguan Ladang Kazakhstan dan Serangan Drone Picu Kenaikan Harga Minyak

- Kamis, 22 Januari 2026 | 07:50 WIB
Gangguan Ladang Kazakhstan dan Serangan Drone Picu Kenaikan Harga Minyak

Di sisi lain, ada cerita lain yang turut mendorong harga. Ekspor minyak Venezuela ternyata masih lesu. Volume minyak yang mereka kirim melalui kesepakatan pasokan senilai USD2 miliar dengan AS hanya mencapai sekitar 7,8 juta barel. Angka itu terpantau dari data pelacakan kapal dan dokumen internal PDVSA, perusahaan minyak negara tersebut.

Lambatnya kemajuan ini jelas jadi hambatan. Venezuela kesulitan untuk membalikkan pemangkasan produksi yang baru-baru ini mereka lakukan. Imbasnya, pasokan dari negara Amerika Selatan itu tetap terbatas.

Bagaimana dengan situasi di Amerika Serikat sendiri? Pekan lalu, persediaan minyak mentah dan bensin di sana diperkirakan naik sekitar 1,7 juta barel. Namun, stok distilat justru diprediksi turun. Data ini berdasarkan jajak pendapat awal yang dilakukan Reuters.

Yang menarik, Badan Energi Internasional (IEA) juga memberikan sinyal yang mendukung. Dalam laporan pasar minyak bulanannya yang dirilis Rabu, mereka merevisi naik proyeksi pertumbuhan permintaan minyak global untuk tahun 2026. Revisi ini, meski mungkin tak drastis, mengisyaratkan satu hal: potensi surplus pasokan tahun ini bisa jadi lebih sempit dari perkiraan sebelumnya.

Namun begitu, bukan berarti semuanya mulus. Analis UBS, Giovanni Staunovo, mengingatkan bahwa ketegangan geopolitik yang meningkat justru menambah tekanan di pasar minyak. "Risiko dari kebijakan tarif bisa memperlambat pertumbuhan ekonomi," katanya. Situasi seperti itu pada akhirnya mendorong sentimen penghindaran risiko di kalangan investor.

Jadi, meski ada angin segar dari sisi pasokan, awan ketidakpastian di langit geopolitik dan ekonomi global masih menggantung. Pasar minyak tampaknya akan tetap bergerak di antara dua faktor yang saling tarik-ulur ini untuk beberapa waktu ke depan.


Halaman:

Komentar