Pasar gas alam cair atau LNG global bakal memasuki babak baru. Setelah beberapa tahun ketat, pasokan diprediksi bakal melimpah mulai tahun ini. Gelombang besar proyek baru terutama dari AS dan Qatar akan mulai mengalir, dan puncaknya diperkirakan terjadi di 2026. Imbasnya? Harga kemungkinan tertekan, dan itu justru bisa memicu kembali minat pembeli.
Menurut sejumlah analis, 2026 akan jadi tahun peralihan. Pasar bergerak dari ketat ke longgar. "Pasar diproyeksikan beralih dari kondisi pasokan ketat menuju ketersediaan yang lebih longgar," kata Kpler, seperti dikutip Reuters pekan lalu.
Mereka menambahkan, suplai diprediksi tetap memadai meski permintaan musim dingin dan kebutuhan isi ulang penyimpanan di Eropa meningkat.
Angkanya cukup signifikan. Proyeksi dari S&P Global Energy, Kpler, dan Rystad Energy menyebutkan, setidaknya ada 35 juta metrik ton kapasitas baru yang akan beroperasi tahun ini. Tambahan itu bisa mendongkrak pasokan global hingga sekitar 10 persen. Dan gelombang ini diprediksi masih akan berlanjut hingga 2029.
Nah, siapa yang akan menyerap semua pasokan baru ini? China dan India tampaknya akan jadi motor penggerak utama. Permintaan dari Asia, yang sempat lesu tahun lalu karena harga mahal dan persaingan dengan bahan bakar lain, diperkirakan bangkit lagi tahun ini. Kenaikannya bisa antara 4 sampai 7 persen.
Harga yang lebih murah tentu jadi pemicu utamanya. Itu akan mendorong pembelian spot, peralihan bahan bakar, dan aktivitas penimbunan.
"Sebagian besar pasokan baru dari kontrak ini kemungkinan akan diserap untuk kebutuhan domestik," ujar Nelson Xiong, seorang analis di Kpler.
Dia memperkirakan permintaan China akan naik 6-7 juta ton, sementara India sekitar 5 juta ton. Kontrak-kontrak baru juga akan menopang angka impor mereka.
Tapi ceritanya nggak sesederhana itu. Impor China tahun 2025 memang tercatat turun. Penyebabnya beragam: permintaan industri yang lemah, tarif AS, plus pasokan gas domestik dan pipa yang kuat. Meski naik tahun ini, volume impor LNG China masih berpotensi di bawah level 2024.
Ole Dramdal dari Rystad Energy memperkirakan impor LNG China mencapai 76,5 juta ton tahun ini. Itu naik 12 persen dari 2025, seiring prioritas Beijing pada produksi dalam negeri.
Di sisi lain, ada fakta menarik. Surplus pasokan dari kontrak jangka panjang China yang disebutkan bisa lebih dari 80 juta ton per tahun, berpotongan dialihkan kembali ke pasar. Artinya, kelebihan itu bisa berputar dan mempengaruhi dinamika harga global.
Selain dua raksasa Asia itu, negara-negara seperti Turki, Malaysia, dan Taiwan juga diproyeksi meningkatkan impor. Totalnya sekitar 6,2 juta ton di 2026. Jadi, meski pasokan melimpah, pemulihan permintaan dari berbagai penjuru tampaknya siap menyambut.
Artikel Terkait
Hutama Karya Raup Laba Rp464 Miliar di Kuartal I-2026, Tembus 172 Persen Target
PT Sinar Terang Mandiri Tbk Bagikan Dividen Rp60,23 Miliar, Setara Rp14,75 per Saham
Indonet Tunjuk Donauly Elena Situmorang sebagai Direktur Utama, Gantikan Andrew Rigoli
IHSG Anjlok 6,6% dalam Sepekan, Saham Logistik Baru IPO Justru Melonjak 94%