Direktur Utama PLN Menangis Saat Paparkan Medan Berat Pemulihan Listrik Pasca Bencana
Dalam sebuah rapat di DPR, Rabu (21/1), Darmawan Prasodjo tak bisa menahan air matanya. Direktur Utama PT PLN (Persero) itu sedang memaparkan betapa beratnya perjuangan memulihkan listrik di wilayah Sumatera yang dilanda bencana. Suaranya sempat tercekat saat mengingat peristiwa banjir bandang dan longsor yang memorak-porandakan sistem kelistrikan di Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh.
Dampaknya luar biasa masif. Menurut Darmawan, kerusakan terjadi di mana-mana. Mulai dari pembangkit, menara transmisi, gardu induk, hingga tiang-tiang listrik di pinggir jalan dan instalasi di rumah warga. Semua lini terdampak.
"Dampaknya dalam hal ini, baik itu ke pembangkit kami, baik itu ke tower-tower kami, baik itu ke gardu induk kami, baik itu ke tiang listrik yang di pinggir jalan, baik itu ke instalasi di rumah. Sehingga ini dampaknya sangat masif,"
ujarnya di hadapan anggota Komisi VI DPR.
Perlahan, kondisi mulai membaik. Darmawan menjelaskan bahwa sistem kelistrikan di Sumatera Barat sudah pulih total sejak 23 Desember tahun lalu. Wilayah Sumut pada dasarnya juga sudah 100 persen normal. Namun, alam ternyata belum berhenti menguji. Banjir dan longsor susulan di Tapanuli Utara memadamkan kembali listrik yang baru dipulihkan.
"Saat ini masih terdapat dua desa di Tapanuli Utara yang masih mengalami padam," ungkapnya. "Jadi yang tadinya pulih 100 persen, sekarang jadi 99,97 persen desa yang sudah berhasil kami nyalakan kembali."
Pemulihan ini, menurut Darmawan, bukan semata kerja keras tim PLN. Dia dengan jelas menyebut peran vital seluruh unsur masyarakat, bahkan TNI dan Polri. Medan yang terjal dan akses jalan yang putus membuat pengangkutan peralatan berat untuk tower dan transmisi menjadi tantangan logistik yang nyaris mustahil.
Momen haru itu datang saat dia memperlihatkan sebuah video singkat. Rekaman itu menggambarkan sulitnya medan di lokasi bencana dan semangat gotong royong masyarakat. Terutama di Aceh. Melihat itu, Darmawan pun menangis.
"Ini adalah pengalaman di mana kedigdayaan tim PLN harus menghadapi bagaimana ganasnya alam," katanya, dengan suara bergetar. "Kedepannya, kami memang perlu memperkuat perencanaan dan sistem untuk menghadapi bencana seperti ini."
Kerusakan di Aceh memang parah. Darmawan mencatat, ada 24 tower yang rusak dan harus diperbaiki dalam waktu singkat. Secara total, 66 tower transmisi terdampak. Rinciannya, 19 roboh sama sekali dan 47 lainnya mengalami deformasi atau perubahan bentuk. Akibatnya, aliran listrik dari jaringan tulang punggung (backbone) Sumatera tersendat ke Serambi Mekah.
"Pertama kali kami merasakan bahwa kami adalah manusia yang sangat kecil melawan kekuatan dari Tuhan Yang Maha Kuasa dan alam,"
aku Darmawan.
"Tim kami memberikan yang terbaik di luar batas kemampuan kemanusiaan. Dan kami mengakui, ini jadi titik balik besar dalam cara kami menyikapi keandalan sistem kelistrikan."
Pada akhirnya, kata dia, kunci pemulihan listrik sangat berkaitan dengan akses jalan. Jika jalannya terputus atau terisolasi, perbaikan pun terhambat. Sementara kerusakan di rumah-rumah warga adalah persoalan lain yang butuh penanganan tersendiri.
Dari sekitar 6.500 desa di Aceh, masih ada sisa 60 desa kurang dari satu persen yang listriknya belum normal. Penyebabnya, akses jalan ke sana masih tertutup. Untuk mengatasi ini, Darmawan menyambut baik bantuan 1.000 unit genset dari Kementerian ESDM. Bantuan itu setidaknya bisa menjadi solusi sementara, sembari menunggu akses jalan dibuka dan jaringan permanen diperbaiki.
Artikel Terkait
Wall Street Tertekan: Nasdaq Anjlok 0,79% Dipicu Kekhawatiran Masa Depan AI dan OpenAI Gagal Capai Target
BEI Hapus 11 Waran Terstruktur KGI Sekuritas dari Perdagangan per 11 Mei 2026
Sucor Asset Management Gandeng Hana Bank sebagai Agen Penjual Empat Produk Reksa Dana
Ashmore Perpanjang Buyback Saham Rp7 Miliar hingga Juli 2026