Air Mata Direktur Utama PLN Saat Bongkar Medan Berat Perjuangan Nyalakan Kembali Listrik Pasca Bencana

- Rabu, 21 Januari 2026 | 15:48 WIB
Air Mata Direktur Utama PLN Saat Bongkar Medan Berat Perjuangan Nyalakan Kembali Listrik Pasca Bencana

Direktur Utama PLN Menangis Saat Paparkan Medan Berat Pemulihan Listrik Pasca Bencana

Dalam sebuah rapat di DPR, Rabu (21/1), Darmawan Prasodjo tak bisa menahan air matanya. Direktur Utama PT PLN (Persero) itu sedang memaparkan betapa beratnya perjuangan memulihkan listrik di wilayah Sumatera yang dilanda bencana. Suaranya sempat tercekat saat mengingat peristiwa banjir bandang dan longsor yang memorak-porandakan sistem kelistrikan di Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh.

Dampaknya luar biasa masif. Menurut Darmawan, kerusakan terjadi di mana-mana. Mulai dari pembangkit, menara transmisi, gardu induk, hingga tiang-tiang listrik di pinggir jalan dan instalasi di rumah warga. Semua lini terdampak.

"Dampaknya dalam hal ini, baik itu ke pembangkit kami, baik itu ke tower-tower kami, baik itu ke gardu induk kami, baik itu ke tiang listrik yang di pinggir jalan, baik itu ke instalasi di rumah. Sehingga ini dampaknya sangat masif,"

ujarnya di hadapan anggota Komisi VI DPR.

Perlahan, kondisi mulai membaik. Darmawan menjelaskan bahwa sistem kelistrikan di Sumatera Barat sudah pulih total sejak 23 Desember tahun lalu. Wilayah Sumut pada dasarnya juga sudah 100 persen normal. Namun, alam ternyata belum berhenti menguji. Banjir dan longsor susulan di Tapanuli Utara memadamkan kembali listrik yang baru dipulihkan.

"Saat ini masih terdapat dua desa di Tapanuli Utara yang masih mengalami padam," ungkapnya. "Jadi yang tadinya pulih 100 persen, sekarang jadi 99,97 persen desa yang sudah berhasil kami nyalakan kembali."

Pemulihan ini, menurut Darmawan, bukan semata kerja keras tim PLN. Dia dengan jelas menyebut peran vital seluruh unsur masyarakat, bahkan TNI dan Polri. Medan yang terjal dan akses jalan yang putus membuat pengangkutan peralatan berat untuk tower dan transmisi menjadi tantangan logistik yang nyaris mustahil.


Halaman:

Komentar