Ada satu pencapaian lain yang digarisbawahi Maman. Untuk pertama kalinya, alokasi dana KUR ke sektor produksi berhasil menembus 60,7 persen, setara Rp 163 triliun. Ini melampaui target 60 persen yang ditetapkan sebelumnya. Bisa dibilang, 2025 menjadi tahun yang cukup bersejarah bagi program KUR dalam mendorong sektor riil.
Namun begitu, di balik angka-angka positif itu, Maman menyimpan catatan penting. Mayoritas tenaga kerja yang terserap dari program KUR ternyata masih berkutat di sektor informal. Dari potensi jutaan pekerja tadi, sebagian besarnya belum masuk ke skema formal.
“Ini menjadi catatan evaluasi bagi kami. Ke depan, kami akan merumuskan strategi agar tenaga kerja hasil program KUR dapat masuk ke sektor formal sehingga jaminan dan perlindungan lebih baik,” katanya.
Selain pendanaan, pemerintah tak lupa mendorong aspek pendukung lain. Kemudahan perizinan dan peningkatan daya saing lewat sertifikasi terus digenjot. Sepanjang 2025, tercatat 3 juta Nomor Induk Berusaha (NIB) terbit lewat BKPM. Lalu ada 2,8 juta sertifikasi halal dari BPJPH, dan lebih dari 1 juta sertifikasi SNI Bina UMK yang dikeluarkan BSN.
Meski ketiga sertifikasi itu bukan ranah langsung Kementerian UMKM, Maman menegaskan dukungan penuhnya agar angka-angka tersebut terus naik di masa mendatang.
Artikel Terkait
Blue Bird Gandeng Tahilalats, Gen Z Jadi Sasaran Utama
IHSG Diperkirakan Beragam, Analis Soroti Level Krusial 9.100
Wall Street Berdarah-darah, Dihajar Ancaman Tarif Trump dan Greenland
BEI Soroti Rencana Rusun Subsidi di Meikarta, Lippo Cikarang Klaim Tak Ada Halangan Hukum