Wall Street Terkapar, Tarif Fantastis Trump ke Eropa Picu Panik Pasar

- Selasa, 20 Januari 2026 | 22:35 WIB
Wall Street Terkapar, Tarif Fantastis Trump ke Eropa Picu Panik Pasar

Wall Street berguncang hebat di awal sesi Selasa (20/1/2026). Ancaman tarif impor besar-besaran dari Presiden Donald Trump ke negara-negara Eropa, terkait isu Greenland, langsung menyeret pasar ke zona merah. Reaksinya cepat dan keras.

Dow Jones Industrial Average anjlok 630 poin, atau 1,3 persen, ke level 49.005. Sementara itu, indeks S&P 500 merosot 100 poin (1,5 persen) ke posisi 6.838. Tapi yang paling terpukul adalah NASDAQ Composite, terkoreksi tajam 420 poin atau 1,8 persen, hingga ke level 23.142.

Semua ini berawal dari retorika Trump yang menyebut kepemilikan Greenland sebagai hal "mendesak bagi keamanan dunia." Pasar, rupanya, tidak menganggapnya sebagai sekadar omongan. Ancaman nyatanya adalah tarif yang dimulai 10 persen pada Februari, dan bisa melonjak hingga 25 persen di bulan Juli. Bahkan, untuk produk minuman mewah Prancis, Trump menyebut angka fantastis: 200 persen.

Uni Eropa tentu saja tidak tinggal diam. Blok ekonomi raksasa ini langsung merencanakan pertemuan darurat. Mereka sedang mempertimbangkan aksi balasan yang cukup serius, mulai dari mengenakan tarif pada barang-barang AS senilai 93 miliar Euro, hingga membatasi akses perbankan bagi perusahaan Amerika. Ketegangan dagang transatlantik yang baru ini jelas bikin investor ciut.

Akibatnya, modal pun berlarian mencari tempat yang aman. Emas, seperti biasa, jadi primadona. Harga emas spot melonjak 1,4 persen dan mencetak rekor tertinggi baru di USD 4.745,92 per ons. Di pasar surat utang, kekhawatiran yang sama mendorong imbal hasil (yield) Treasury AS tenor 10-tahun naik ke level 4,288 persen.

Di tengah semua gejolak ini, ada satu hal yang masih dinantikan pasar: putusan Mahkamah Agung AS. Mereka akan memutuskan soal legalitas penggunaan wewenang darurat presiden dalam menetapkan tarif. Keputusannya bisa jadi penentu arah. Jika Trump dinyatakan bersalah, tekanan di pasar saham diperkirakan akan mereda.

Namun begitu, untuk saat ini, suasana hati investor jelas defensif. Mereka memilih menunggu dan melihat, sambil mencermati laporan kinerja keuangan perusahaan-perusahaan yang akan dirilis kuartal ini. Proyeksi pertumbuhannya masih cukup baik, sekitar 12 hingga 15 persen. Tapi di tengah badai politik seperti sekarang, angka-angka itu sepertinya tenggelam oleh berita utama yang lebih panas.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar