Akibatnya, modal pun berlarian mencari tempat yang aman. Emas, seperti biasa, jadi primadona. Harga emas spot melonjak 1,4 persen dan mencetak rekor tertinggi baru di USD 4.745,92 per ons. Di pasar surat utang, kekhawatiran yang sama mendorong imbal hasil (yield) Treasury AS tenor 10-tahun naik ke level 4,288 persen.
Di tengah semua gejolak ini, ada satu hal yang masih dinantikan pasar: putusan Mahkamah Agung AS. Mereka akan memutuskan soal legalitas penggunaan wewenang darurat presiden dalam menetapkan tarif. Keputusannya bisa jadi penentu arah. Jika Trump dinyatakan bersalah, tekanan di pasar saham diperkirakan akan mereda.
Namun begitu, untuk saat ini, suasana hati investor jelas defensif. Mereka memilih menunggu dan melihat, sambil mencermati laporan kinerja keuangan perusahaan-perusahaan yang akan dirilis kuartal ini. Proyeksi pertumbuhannya masih cukup baik, sekitar 12 hingga 15 persen. Tapi di tengah badai politik seperti sekarang, angka-angka itu sepertinya tenggelam oleh berita utama yang lebih panas.
Artikel Terkait
Ahmad Yani Ambil Alih Pucuk Pimpinan Pertamina Geothermal, Pacu Target 1,8 GW
Kemenperin Godok Aturan Baru untuk Permudah IKM Akses Bahan Baku Impor
Manajemen UDNG Bantah Isu Akuisisi, Fokus Ekspansi Tambak Udang
Dua Menteri Godok Strategi Dana untuk Infrastruktur dan Penanganan Bencana