Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa punya pendapat menarik soal rupiah yang melemah belakangan ini. Menurutnya, kondisi mata uang kita itu nggak sejalan dengan fundamental ekonomi dalam negeri yang justru lagi membaik. Dia justru optimis, lho.
Dengan arus modal masuk dan IHSG yang menguat, nilai tukar diprediksi akan ikut merangkak naik. "Anda lihat di pasar modal kan naik (IHSG)," ujarnya.
"Pasar modal enggak mungkin naik kalau enggak ada investor asing yang masuk sini juga. Jadi harusnya kalau lihat dari "supply" dolar harusnya enggak kekurangan nih."
Tapi begitu, Purbaya memilih tak berspekulasi soal kebijakan bank sentral. "Cuman anda mestinya tanya ke Bank Sentral apa "policy"-nya, saya enggak tahu," katanya di depan OJK, Selasa (20/1).
Di sisi lain, dari kacamata fiskal, pelemahan rupiah dinilainya masih terbatas dampaknya. Pergerakannya year to date yang sekitar 2–3 persen itu tergolong moderat. Sistem ekonomi kita sudah biasa menghadapi fluktuasi seperti ini, jadi aktivitas ekonomi secara keseluruhan belum terganggu signifikan.
Yang penting sekarang, menurut Purbaya, adalah menjaga pondasi ekonomi. Kalau aktivitas ekonomi domestik makin kencang dan persepsi investor membaik, modal asing pasti akan berdatangan lagi. Ia menunjuk IHSG yang kuat sebagai bukti awal kepercayaan itu.
“Jadi ekonomi kita kalau kita jaga terus dan kita akan perbaiki terus ke depan, rupiah akan cenderung menguat,” tegasnya.
Bahkan, dia memberi sinyal ke para spekulan. Dengan pondasi ekonomi yang terus diperbaiki, nilai tukar saat ini dinilai terlalu lemah dibandingkan kondisi riil. Jadi, berhati-hatilah mengambil posisi.
Soal koordinasi, dalam rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) dengan DPR, disepakati untuk memperkuat sinergi. Purbaya meyakini, kolaborasi yang solid antara pemerintah, bank sentral, OJK, dan LPS akan menggerakkan mesin ekonomi. Hasilnya? Pertumbuhan ekonomi bisa dipacu lebih cepat.
Nah, penguatan IHSG tadi bukan cuma angka. Itu sinyal penting bagi investor, baik domestik maupun luar negeri. Sinyal positif itulah yang mendorong keputusan investasi, yang ujung-ujungnya menguatkan prospek ekonomi nasional.
Lalu bagaimana dengan beban subsidi energi akibat rupiah melemah? Purbaya terlihat cukup santai. Kenaikan dolar, katanya, nggak jauh beda dari asumsi APBN. Sementara harga minyak malah lebih rendah dari perkiraan di anggaran.
"Subsidi energi? Ya kita bayar aja," katanya dengan nada ringan.
"Dolarnya naik berapa sih, enggak jauh beda dengan asumsi APBN kita, dan harga minyaknya kan di bawah asumsi APBN. Jadi subsidi ini ya gampangnya relatif terkendali selama ini."
Jadi, intinya, pemerintah melihat pelemahan rupiah ini sebagai sesuatu yang temporer. Fokus mereka tetap pada perbaikan fundamental, sambil mengawasi gejolak pasar dengan koordinasi yang lebih ketat.
Artikel Terkait
Harga Tembaga Tertekan Imbas Ketegangan AS-Iran dan Ketidakpastian The Fed
PT Mulia Boga Raya (KEJU) Bagikan Dividen Rp89,88 Miliar, Setara 50% Laba Bersih
Harga Emas Antam Naik Rp40.000 Jadi Rp2,88 Juta per Gram
IHSG Terperosok 0,92% di Awal Sesi, Mayoritas Sektor Tertekan