Keluhan soal pasokan gas murah atau HGBT kembali mencuat dari kalangan industri. Kali ini, suaranya terdengar cukup keras. Yustinus Gunawan, Ketua Forum Industri Pengguna Gas Bumi (FIPGB), tak ragu menyebut situasi ini bisa mengganggu produksi dan menambah beban biaya. Menurutnya, utilisasi pabrik bakal tertekan, daya saing pun terancam tergerus.
Masalahnya berawal dari surat PT PGN di awal Januari 2026. Surat itu mengabarkan kuota gas untuk pelanggan industri cuma tersedia 43-68 persen, itupun hanya di hari-hari tertentu. Kabar ini langsung bikin was-was. Bagaimana industri bisa jalan kalau pasokan energi utamanya tak menentu?
“Ironisnya, pembatasan pasokan ini terjadi meski alokasi HGBT telah diatur jelas dalam Kepmen ESDM Nomor 76.K/2025. Namun implementasinya di lapangan selalu lebih rendah dari alokasi resmi,” kata Yustinus, Senin (19/1).
Dia melanjutkan, setidaknya ada dua persoalan utama: kuota yang rendah dan tidak sesuai aturan, lalu pemberitahuan yang mendadak dan penuh ketidakpastian.
“Situasi ini membuat perencanaan produksi kacau. Industri membutuhkan kepastian energi jangka menengah dan panjang, bukan keputusan mendadak,” jelasnya.
Belum lagi ketidakjelasan untuk bulan depan. Yustinus menuturkan, alokasi HGBT untuk Februari di Jawa Timur sampai sekarang belum juga diumumkan. Keresahan pun merambat.
“Jika benar Februari tanpa kuota, industri berharap kondisi darurat Januari tidak terulang. Namun ketidakjelasan ini sudah cukup menciptakan keresahan,” tuturnya.
Yang jadi pertanyaan, kondisi ini kok rasanya bertolak belakang dengan arahan Presiden tentang pertumbuhan ekonomi 8 persen dan ketahanan energi dalam visi Asta Cita. Yustinus menilai target itu bisa saja tercapai, asal kebijakan energi ditegakkan dengan konsisten. Tanpa kepastian pasokan gas, semuanya jadi sulit.
“Tanpa kepastian energi, industri sulit tumbuh. Jika industri terhambat, ekonomi nasional ikut tertahan,” ujarnya.
Artikel Terkait
Menteri Keuangan: IHSG Tembus Rekor, Rupiah Akan Menyusul
Tiga Nama Calon BI Bocor, Salah Satunya Keponakan Prabowo
Purbaya Buka Suara soal Pertukaran Juda Agung dan Thomas Djiwandono
Bakrie & Brothers Gelar Rights Issue Usai Akuisisi Tol Cimanggis-Cibitung