Kasus perselingkuhan yang diumbar-umbar di media sosial itu bikin miris. Yang paling menderita sebenarnya justru anak-anak mereka nanti. Bayangkan saja, ketika mereka tumbuh besar dan membaca atau melihat aib orang tuanya tersebar luas. Kalah atau menang di pengadilan pun, anak-anaklah yang akhirnya jadi korban. Mereka yang harus menanggung beban itu semua.
Memang, zaman sekarang ini rasanya semua orang ingin eksis dengan memamerkan masalah pribadi di media sosial. Aib rumah tangga, urusan ranjang, pertengkaran suami-istri semuanya di-update seolah sedang menayangkan sinetron. Padahal, dampaknya bisa sangat berbahaya.
Di sisi lain, agama sebenarnya sudah memberikan tuntunan yang sangat jelas dalam menyikapi perselisihan rumah tangga. Al-Quran mengisyaratkan bahwa ketika ada masalah antara suami istri, sebaiknya diupayakan perbaikan terlebih dahulu. Kalau tidak bisa, baru melibatkan pihak ketiga untuk membantu mendamaikan.
وَإِنۡ خِفۡتُمۡ شِقَاقَ بَیۡنِهِمَا فَٱبۡعَثُوا۟ حَكَمࣰا مِّنۡ أَهۡلِهِۦ وَحَكَمࣰا مِّنۡ أَهۡلِهَاۤ إِن یُرِیدَاۤ إِصۡلَـٰحࣰا یُوَفِّقِ ٱللَّهُ بَیۡنَهُمَاۤۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلِیمًا خَبِیرࣰا
"Dan jika kamu khawatir terjadi persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang juru damai dari keluarga laki-laki dan seorang juru damai dari keluarga perempuan. Jika keduanya bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-istri itu. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti." (Surat An-Nisa': 35)
Nah, bandingkan dengan apa yang terjadi belakangan ini. Urusan pribadi malah diumbar di media sosial. Hasilnya? Bukan solusi yang didapat, tapi situasi justru makin memanas. Masalah yang seharusnya bisa diselesaikan dengan kepala dingin malah jadi berantakan tak terkendali.
Saya pribadi mengakuinya setiap melihat orang membahas urusan rumah tangga orang lain di media sosial, rasanya sungguh tidak nyaman. Bahkan untuk sekadar ikut-ikutan mengomentari atau membagikan ulang, saya selalu berpikir dua kali. Ada rasa khawatir yang mendalam.
Khawatir kalau-kalau Allah memberikan ujian yang sama kepada saya. Kita tidak pernah tahu sekuat apa diri kita menghadapi fitnah duniawi semacam ini. Bisa saja kita menganggap remeh, tapi ketika diuji langsung, ternyata kita tak sanggup menanggungnya.
Maka, menurut saya pribadi, yang terbaik adalah berusaha tidak terlalu ikut campur dalam urusan pribadi dan rumah tangga orang lain. Biarkan pihak-pihak yang berwenang saja yang menanganinya. Kita cukup mengambil pelajaran dan berdoa agar diberi ketabahan.
Mila Machmudah Djamhari
Aboud Basyarahil
hamba yang dhoif
Artikel Terkait
INFID Kritik Garis Kemiskinan BPS dan Anggaran MBG yang Dinilai Tidak Berkelanjutan
Mantan Aktivis Kritik Dominasi Broker Politik dalam Praktik Money Politics
Profesor Hedar Soroti Tantangan Hukum Atasi Dampak Negatif Algoritma
Jusuf Kalla Bantah Tuduhan Penistaan Agama, Klarifikasi Penggunaan Istilah Syahid